Tanggapi Sindiran Jokowi soal Tingginya Suku Bunga Kredit, Bankir : Kalau Kecil Kami Dimarahi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyindir para bankir mengenai suku bunga kredit perbankan yang masih tinggi. Padahal, Bank Indonesia (BI) pada Oktober

Tanggapi Sindiran Jokowi soal Tingginya Suku Bunga Kredit, Bankir : Kalau Kecil Kami Dimarahi
tribunjateng/dok
FOTO DOKUMEN Permintaan pemerintah agar perbankan menerapkan suku bunga kredit satu digit di akhir tahun ini bakal sulit terwujud. Pasalnya, tren penurunan bunga kredit seakan berhenti. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyindir para bankir mengenai suku bunga kredit perbankan yang masih tinggi. Padahal, Bank Indonesia (BI) pada Oktober lalu telah memangkas suku bunga 7 Day Reverse Repo Rate (7DRRR) sebanyak 25 basis point (bps) menjadi 5 persen, sekaligus merupakan penurunan keempat tahun ini.

Hal itupun mendapat tanggapan dari para bankir. Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), Ario Bimo mengatakan, penurunan suku bunga kredit harus menyeleraskan biaya dana yang dikeluarkan bank atau disebut cost of fund.

"Yang penting 'cost of fund'-nya turun baru berani turun. Kalau 'cost of fund' belum turun, ya enggak berani-lah. Nanti kalau kami semakin kecil (suku bunga-Red) dimarahi investor," katanya, ditemui di Jakarta, Rabu (6/11).

Pada semester I/2019, 'cost of fund' BNI secara tahunan naik dari 2,8 persen menjadi 3,2 persen. Hal itulah yang membuat BNI masih enggan menurunkan suku bunga kreditnya.

"Kami sekarang lagi turun dulu pelan-pelan, kemarin 3,2 persen. Kami lihat pelan-pelan. Kalau 'cost of fund' turun, kami baru berani menurunkan," ucapnya.
Selain itu, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) juga menjadi faktor BNI mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga kreditnya.

"LDR kami 96,6 persen. Jadi intinya kami menurunkan 'cost of fund' dulu baru bisa review bunga," ucapnya.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Sunarso berpendapat, jika ingin menurunkan suku bunga kredit harus melihat kondisi pasar keuangan.

"Suku bunga pasti memang harus mengikuti pasar. Jadi, bank 'follow rate', kalau pasar turun, tidak ada alasan kami tidak menurunkan. Tapi ada mekanisme mengatur pricing yang di luar market, yaitu regulated price," jelasnya.

Dia mencontohkan, Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diberikan suku bunganya hanya 7 persen. Tanpa adanya subsidi tersebut, sektor perbankan masih ragu untuk memberikan bunga kredit serendah itu.

"Mana ada kami bisa memberikan suku bunga 7 persen seperti sekarang ini kalau mengikuti pasar? Kemudian pemerintah dan negara hadir di situ dengan memberikan subsidi," ujarnya.

Regulasi dan kolaborasi

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved