Alasan Kenapa Bank BUMN Rentan Dampak Negatif?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam event Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019, pada Rabu (6/11) lalu

Alasan Kenapa Bank BUMN Rentan Dampak Negatif?
tribunjateng/dok
FOTO DOKUMEN Permintaan pemerintah agar perbankan menerapkan suku bunga kredit satu digit di akhir tahun ini bakal sulit terwujud. Pasalnya, tren penurunan bunga kredit seakan berhenti. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam event Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019, pada Rabu (6/11) lalu, meminta industri perbankan menurunkan suku bunga kredit.

Hal itu mengingat Bank Indonesia (BI) pada Oktober lalu telah memangkas suku bunga 7 Day Reverse Repo Rate (7DRRR) sebanyak 25 basis point (bps) menjadi 5 persen, sekaligus merupakan penurunan keempat tahun ini.

Namun, permintaan presiden itupun disambut negatif pelaku pasar. Akibatnya, harga sejumlah saham sektor perbankan sempat ambles.

Pada Kamis (7/11), harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 3,85 persen menjadi Rp 4.000/saham. Begitu juga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 0,16 persen ke Rp 31.425/saham.

Sementara harga dua saham bank BUMN lain, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), kembali menguat setelah sebelumnya sempat anjlok.

Analis MNC Sekuritas, Catherina Vincentia menilai, permintaan dari Jokowi mempengaruhi psikologis investor, sehingga investor cepat merespons negatif wacana penurunan suku bunga kredit.

"Dampak terbesar intervensi pemerintah tentunya berpotensi menurunkan tingkat profitabilitas atau net interest margin (NIM) perbankan ke depan," katanya, pekan lalu.

Hal itu lantaran penurunan suku bunga kredit tidak diimbangi langsung dengan penurunan cost of fund dari perbankan. Menurut Chaterina, sekarang ini tingkat likuiditas perbankan masih ketat.

Akibatnya, penurunan suku bunga akan menimbulkan risiko bagi perbankan. "Dari pandangan kami, perbankan BUMN relatif lebih rentan terkena dampak negatif (dari bunga kredit rendah-Red), terutama BBRI, karena porsi kredit usaha rakyat yang dominan," jelasnya.

Analis Artha Sekuritas, Frederick Rasali juga berpandangan, penurunan bunga sulit terjadi jika likuiditas bank cukup ketat. Bank enggan lantaran mencari dana menjadi lebih mahal. Sementara, permintaan kredit masih kuat, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan suku bunga.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved