Fintech Buka Peluang Skema Baru Investasikan Dana Lender

Financial technolgy (Fintech) lending membuka peluang bagi pemberi pinjaman atau lender dalam meningkatkan kualitas investasinya

shutterstock.com
Fintech 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Financial technolgy (Fintech) lending membuka peluang bagi pemberi pinjaman atau lender dalam meningkatkan kualitas investasinya, dengan memberikan layanan tambahan.

Sebelumnya, imbal hasil bagi lender hanya berasal dari dari bunga pinjaman ke penerima utang atau borrrower. Kini, fintech menawarkan dana lender masuk dalam portofolio investasi seperti reksadana.

Hal itu seperti yang bakal dilakukan PT Amartha Mikro Fintek. Sebelum pengujung tahun berakhir, Amartha ingin memberikan pilihan kepada lender menempatkan dana menganggur di instrumen reksadana.

Chief Risk and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto mengatakan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta agar dana milik lender hanya boleh berada maksimal 2 hari di escrow account platform.

Hal itu bertujuan agar fintech tidak menyalahgunakan dana tersebut atau melakukan fraud.

Secara aturan dari regulator, menurut dia, opsi penempatan dana lender itu sebenarnya sebagai bentuk mitigasi risiko agar dana tidak mengendap di escrow account.

Satu caranya adalah membuatkan rekening dana lender, tapi tidak memberikan keuntungan atau rate 0 persen.

“Itu kan tidak menghasilkan pendapatan atau bunga (return). Oleh sebab itu, kami bekerja sama dengan Agen Penjual Efek

Reksa Dana (APERD) agar dana yang mengendap itu di tempatkan di reksadana agar ada hasilnya. Jadi secara aturan boleh. Itu salah satu strategi agar tidak ada pengendapan di escrow account,” katanya, baru-baru ini.

Ilustrasi skema

Aria pun memberikan ilustrasi skema investasi itu. Misalnya satu lender memberikan pinjaman senilai Rp 3 juta untuk jangka waktu satu tahun. Maka, si borrower akan melakukan cicilan secara periodik, misalnya senilai Rp 120.000.

“Nah uang cicilan ini tidak bisa diberikan pinjaman berikutnya kepada borrower, karena harus mencapai Rp 3 juta dulu. Nah, dana inilah yang dioptimalisasikan lewat reksa dana. Mungkin bisa mendapatkan return hingga Rp 5.000,” jelasnya.

Sebagai langkah awal, Aria menuturkan, Amartha akan menyediakan produk reksadana yang tidak merugikan. Amartha akan memilih jenis reksa dana pasar uang untuk permulaan produk ini.

Mendapat izin

Namun, semua proses itu dipastikan tetap harus mendapatkan izin pemilik dana atau lender. "Amartha sudah menjalin kerja sama dengan Principal dan TanamDuit sebagai APERD. Tinggal pengembangan sistemnya,” jelasnya.

Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Tumbur Pardede menekankan, semua proses itu tetap dilakukan lender dan penyelenggara produk investasi. "Fintech hanya mengirimkan dana," ujar Tumbur.

Adapun, OJK belum bisa dimintai keterangan terkait dengan rencana skema baru penempatan dana nasabah dari fintech tersebut. (Kontan/Maizal Walfajri/Achmad Ghifari)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved