Jadi Pengekspor Utama, Gati Minta IKM Gula Palma Banyumas Cari Terobosan
Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian menggelar workshop pengembangan IKM Gula Palma Berbasis Sistem
Penulis: Permata Putra Sejati | Editor: muh radlis
TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian menggelar workshop pengembangan IKM Gula Palma Berbasis Sistem Informasi Terpadu, pada Jumat (15/11/2019).
Bertempat di Hotel Java Heritage Purwokerto, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih mendorong agar industri kecil menengah (IKM) nasional untuk melakukan terobosan.
"Pengembangan IKM gula palma berbasis sistem informasi terpadu untuk dapat meningkatkan efesiensi dan kemudahan telusur," ujarnya, Jumat (15/11/2019).
Gula palma yang berbahan dasar gula kelapa merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekspor tinggi khususnya di Banyumas.
Pada 2018 ekspor gula palma mencapai 35 ribu ton dengan nilai 52,5 juta dolar AS.
• Dapat Peluang Lolos Liga 3 Regional Jawa, Persab Brebes Mundur, Ini Alasannya
• Komisioner Bawaslu Jateng : Mahasiswa Punya Andil Besar Sukseskan Pilkada Serentak 2020
Demi menjaga pasar dari negara pesaing, maka kualitas gula palma harus diperhatikan dengan baik agar kualitasnya tetap terjamin.
Data yang diterima Kemenperin, jumlah perajin gula terbesar berada di wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen) yang mencapai 86.881 pengrajin.
Kabupaten Banyumas menjadi kabupaten dengan jumlah pengrajin gula palma terbesar.
"Perajin gula kelapa di Banyumas sendiri sekira 26.850 penderes. Sekitar 10 persen adalah di petani gula semut atau kristal," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas, Yuniyanto kepada Tribunjateng.com.
Rata-rata perajin dapat memproduksi gula palma sebanyak 4,7 kg perhari yang berasal dari 16 pohon kelapa.
Tujuan kegiatan 'Workshop Pengembangan IKM Gula Palma Berbasis Sistem Informasi Terpadu di Purwokerto' adalah untuk untuk mengenalkan transformasi industri 4.0 kepada IKM gula palma.
Dalam rangka ekspor gula, Pemkab Banyumas mengatakan jika akan mentargetkan sampai 2023, Banyumas dapat ekspor 30 ribu ton.
"Sekarang masih sekitar 15 ribu ton per tahun. Sentra pohon kelapa paling banyak di Cilongok, Pekuncen, Ajibarang," imbuhnya.
Harapannya kegiatan ini dapat memberikan gambaran tentang transformasi industri 4.0 dan IKM gula palma.
Terdapat pula penyampaian tentang overview proses bisnis dan sistem informasi di IKM gula palma, dalam hal ini adalah KSU Nira Satria. (Tribunjateng/jti).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gati-wibawaningsih.jpg)