Breaking News:

Kejagung Eksekusi Rp 477,359 Miliar Kasus Korupsi Pengadaan Batu Bara, Perlu 6 Meja Tampung Uangnya

Kejaksaan Agung mengesekusi putusan pengadilan berupa uang pengganti senilai Rp 477,359 miliar atas kerugian negara dari kasus tindak pidana korupsi

Editor: Catur waskito Edy
Ilustrasi 

JAKARTA, TRIBUNJATENG.COM - Kejaksaan Agung mengesekusi putusan pengadilan berupa uang pengganti senilai Rp 477,359 miliar atas kerugian negara dari kasus tindak pidana korupsi pengadaan batu bara PT PLN Batubara dengan terpidana Kokos Jiang alias Kokos Leo Lim.

Sebanyak Rp100 miliar dari jumlah uang pengganti ditunjukkan Kejagung kepada awak media dalam konferensi pers di kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (15/11).

Pengamatan Tribun, pihak kejaksaan memerlukan enam meja tamu untuk tempat meletakkan uang tunai sebanyak Rp100 miliar. Dan perlu beberapa troli untuk perpindahan uang sebanyak itu.

Uang Rp100 miliar itu terdiri dari uang pecahan Rp100 ribu. Terdapat ratusan bundel uang dengan kemasan plastik yang diletakkan dalam posisi bertumpukan di atas meja memanjang sekitar 5 meter.

"Hari ini adalah eksekusi barang bukti dengan nilai Rp 477.359.539.000. Yang ada di sini Rp100 miliar. Artinya kalau (seluruh uang pengganti) ditumpuk di sini semua, kami yang di sini tidak akan kelihatan (kamera)," ungkap Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin saat konferensi pers.

Burhanuddin mengatakan bahwa uang tersebut sudah diserahkan ke kas negara. "Uang pengganti tersebut telah disetor ke kas negara oleh jaksa eksekutor melalui Sistem Informasi PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) Online atau Simponi Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan," katanya.

Burhanuddin menuturkan, uang sebanyak Rp 477.359.539.000 merupakan nominal uang pengganti kerugian negara sebagaimana putusan Mahkamah Agung Nomor 3318 K/Pid.Sus/2019 tanggal 17 Oktober 2019.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Warih Sadono menuturkan bahwa sumber uang tersebut bukan hal yang penting. Warih menilai bahwa pengembalian uang kerugian negara tersebut lebih penting. "Uangnya berasal dari mana kita tidak perlu tahu, yang penting yang bersangkutan mengembalikan dan disetorkan kepada rekening titipan Kejati DKI Jakarta," ungkap Warih saat konferensi pers yang sama.

Ia menambahkan, sejauh ini belum ada tersangka lain dalam kasus tersebut. Adapun perkara dugaan korupsi Khairil Wahyuni masih terdapat proses banding.

MA dalam putusan kasasinya menyatakan Kokos selaku terdakwa divonis 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp 200 juta dengan ketentuan diganti pidana kurungan selama 6 bulan apabila denda tidak dibayar. Selain MA, juga memberikan pidana tambahan berupa membayar uang pengganti sebesar Rp 477,359 miliar dari pidana korupsi yang dilakukannya.

Kokos selaku Direktur Utama PT Tansri Madjid Energi (PT TME) bersama-sama Direktur Utama PT PLN Batubara, Khairil Wahyuni, terbukti bersalah mengatur sedemikian rupa agar operasi pengusahaan penambangan batu bara PT PLN Batubara jatuh kepada perusahaannya.

Keduanya mengatur dan mengarahkan untuk membuat nota kesepahaman (MoU) dan kerja sama Operasi Pengusahaan Penambangan Batubara agar diberikan kepada Kokos.

Kemudian, Kokos membuat dan menandatangani nota kesepahaman dan Kerja Sama Operasi Pengusahaan Penambangan Batubara, tanpa melakukan "desk study" dan kajian teknis. Selain itu, Kokos melakukan pengikatan kerja sama jual beli batu bara yang masih berupa cadangan.

Akibat permainan dari Kokos dan Khairil Wahyuni, PT PLN Batubara menanggung kerugian mencapai Rp 477.359.539.000.

Awalnya, Kokos divonis bebas oleh Pengadilan Tipikor Jakarta. Jaksa tidak terima dan mengajukan kasasi. Pada 17 Oktober 2019, MA memvonis Kokos Jiang alias Kokos Leo Lim telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana. (tribun network/igm/coz)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved