Bupati Asip: Sejarah dan Akar Tradisi Islam Berkembang dengan Instrumen Budaya

Bupati Pekalongan Asip Kholbihi menjadi keynote speaker pada acara bedah buku 'Islam Berkebudayaan, Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsa

Bupati Asip: Sejarah dan Akar Tradisi Islam Berkembang dengan Instrumen Budaya
Tribun Jateng/Indra Dwi Purnomo
Bupati Pekalongan Asip Kholbihi saat saat menjadi keynote speaker pada acara bedah buku 'Islam Berkebudayaan, Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsaan' karya M. Jadul Maula yang diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Pekalongan, Sabtu, (16/11/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Dalam memahami Islam harus juga memahami akar budayanya, karena sejarah dan akar tradisi Islam justru berkembang menggunakan instrumen serta budaya.

Demikian disampaikan oleh Bupati Pekalongan Asip Kholbihi saat menjadi keynote speaker pada acara bedah buku 'Islam Berkebudayaan, Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan dan Kebangsaan' karya M. Jadul Maula yang diselenggarakan di Pendopo Bupati Pekalongan, Sabtu, (16/11/2019).

"Termasuk wayang kulit adalah produk asli para walisongo, untuk mengembangkan Islam dengan pendekatan budaya," kata Bupati.

Selain itu dengan membaca buku tersebut, masyarakat akan lebih menghargai orang lain, berlaku toleran, dan memandang Allah sebagai dzat yang welas asih.

"Agama tidak hanya dipandang sebagai ritual, kesalehan sosial, yang lebih penting menghargai keyakinan, dan menghargai budaya dan berbagai suku yang ada di Nusantara," ungkapnya.

Bupati Asip menambahkan pada halaman awal, buku ini mengupas hadis tentang menuntut ilmu sampai ke Negeri Cina, yang bisa dipahami sebagai entitas Cina sebagai bangsa yang maju pada masa itu, dan juga Cina berarti jauh artinya keharusan mencari ilmu sejauh mungkin.

"Pada abad ke-6 ada hubungan antara Cina-India-Arab dan Jawa khususnya dalam hal perdagangan, terutama kain atau katun yang didatangkan dari India sehingga kita tidak kekurangan komoditas tersebut," ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya tidak heran jika Pekalongan yang berada di daerah pesisir dan juga merupakan jalur sutra perdagangan, tidak pernah kekurangan bahan baku pakaian.

Maka wajar jika sekarang menjadi penghasil Batik terbesar kemudian di susul Solo, Jogjakarta dan Cirebon.

"Hal itu dikarenakan suplai bahan baku sudah terjadi sejak awal masehi dan didukung SDM yang secara kultural sudah terjalin interaksi tentang bagaimana cara membikin pakaian, dan mengembangkan pakaian itu menjadi lebih baik, proses ini kita alami," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan Gus Eko Ahmadi mengatakan, pemikiran era milenial berbeda dengan jaman dahulu, jika dulu ada isu yang dilontarkan oleh pemimpin akan dikupas dalam kelompok diskusi.

"Sekarang jika ada isu yang ramai adalah meme dan menggoreng isu tersebut, sehingga kita hanya ribut di meme dan gorengan," jelasnya.

Gus Eko menambahkan bagi NU yang didalamnya ada Lesbumi pihaknya berkepentingan agar masyarakat Kabupaten Pekalongan memahami Islam dengan pendekatan budaya.

Sehingga dapat melihat perbedaan dengan kacamata yang lebih bijak.

"Melalui acara ini kita ajak segenap yang hadir, para santri dan pemuda Kabupaten Pekalongan untuk membudayakan literasi, sehingga akan mendorong sinergi antara pemerintah dan masyarakat," tambahnya.(*)

Penulis: Indra Dwi Purnomo
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved