Mahfud Ali : Hendi Tokoh Milenial, Pilwakot Semarang Selesai, Tidak Ada Tokoh Lain

Seiring dengan perkembangan zaman di era 4.0, Kota Semarang membutuhkan pemimpin yang milenial.

Mahfud Ali : Hendi Tokoh Milenial, Pilwakot Semarang Selesai, Tidak Ada Tokoh Lain
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Tokoh Hukum dan Pemerintahan Mahfud Ali memberikan pemaparan dalam jajak pendapat tokoh yang diselenggarakan Partai Gerindra Kota Semarang dengan tema "Figur Pemimpin Ideal Kota Semarang 2020, Seperti Apa?" di Hotel Pandanaran, Minggu (17/11/2019). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seiring dengan perkembangan zaman di era 4.0, Kota Semarang membutuhkan pemimpin yang milenial.

Tokoh Hukum dan Pemerintahan Mahfud Ali mengatakan, pemimpin milenial sangat dibutuhkan untuk membuat Kota Semarang lebih maju.

"Memang perlu pemimpin milenial, jangan diatas 50 tahun. Sehingga, semangat mudanya masih enerjik, penuh stamina untuk turun ke bawah, ke pelosok-pelosok kampung," tuturnya saat jajak pendapat tokoh yang diselenggarakan Partai Gerindra Kota Semarang dengan tema "Figur Pemimpin Ideal Kota Semarang 2020, Seperti Apa?" di Hotel Pandanaran, Minggu (17/11/2019).

Lanjut Mahfud, pemimpin milenial juga dapat menilai persoalan yang dialami masyarakat dan akan bergerak cepat menyelesaikan persoalan tersebut. Calon milenial juga diharapkan dapat meningkatkan pembangunan yang bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

"Semua rakyat harus menikmati pembangunan, jangan sampai ada yang tercecer dan tidak terakomodir," ujarnya.

Dari hasil diskusi jajak pendapat, Mahfud menyebutkan, belum ada tokoh lain yang dimunculkan selain calon petahana.

"Partai lahir untuk kepentingan rakyat. Kalau yang terjadi seperti yang kita saksikan, apa namanya partai? Yang siap PDIP, yang lain kurang siap atau bagaimana atau kompetisi tidak ada," ujarnya.

Petahana dinilai menjadi tokoh milenial yang dapat melangkah untuk menyelesaikan dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Berbagai media pengaduan yang menjadi terobosan petahana dapat menyesaikan persoalan secara cepat.

"Tadi saya tidak menyampaikan keberhasilan Mas Hendi karena ingin mengetahui bagaimana audience menyikapi incumbent. Saya mencontohkan persoalan kemiskinan, pengangguran di Kota Semarang, tapi itu tidak menggugah mereka untuk berbicara tokoh lain. Kesimpulan, Pilkada Kota Semarang selesai. Tidak ada tokoh lain yang muncul," paparnya. (eyf)

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved