Kepemilikan Asing di Surat Berharga Negara Mulai Susut

Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mulai terkoreksi setelah pasar obligasi rally. Harga Surat Utang Negara (SUN) yang dinilai mulai kema

Kepemilikan Asing di Surat Berharga Negara Mulai Susut
KONTAN/Cheppy A Muchlis
ILUSTRASI 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mulai terkoreksi setelah pasar obligasi rally. Harga Surat Utang Negara (SUN) yang dinilai mulai kemahalan membuat asing enggan masuk kembali. Terlebih, kini perang dagang AS dan China kembali memanas.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di SBN mulai turun sejak 11 November lalu. Padahal, pada 8 November, kepemilikan asing sempat mencatatkan rekor nilai tertinggi setelah menembus Rp 1.070,22 triliun.

Namun, kepemilikan asing susut Rp 2,05 triliun menjadi Rp 1.068,17 triliun pada Selasa (12/11) lalu. Porsi kepemilikan asing di SBN pun masih tetap berada di level 39 persen.

Pengamat pasar modal, Siswa Rizali mengatakan, saat ini investor asing terlihat menahan diri, mengingat pasar obligasi dalam negeri sudah rally cukup kencang sejak pertengahan tahun ini.

Derasnya aliran dana asing mulai terasa sejak Bank Indonesia memangkas BI 7-day reverse repo rate (BI 7-DRR). "Biasanya kalau porsi asing sudah mau mendekati 40 persen mereka cenderung berhati-hati," katanya, pekan lalu.

Investor asing mempertimbangkan faktor keseimbangan portofolio investasi mereka. Jadi, ketika asing banyak masuk ke suatu instrumen, mereka juga memikirkan cara keluar dari pasar dan mempertimbangkan likuiditas pasar.

Kurang likuid

Likuiditas surat utang pemerintah masih kurang likuid di pasar global. Jika posisi asing sudah naik dan terjadi gejolak di pasar keuangan, risiko asing berinvestasi di pasar Indonesia makin besar.

Sementara, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi menuturkan, tensi perang dagang antara AS dan China yang kembali panas usai pidato Presiden Donald Trump juga berbahaya.

Hal itu, dia menambahkan, dinilai karena dapat mengerek volatilitas nilai tukar rupiah dan membuat investor asing keluar dari SBN.

Hal itu juga dinilai dipengaruhi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah di hadapan dollar AS beberapa waktu lalu. meski demikian, rentang pergerakan kurs rupiah masih terbilang sempit dan belum tergolong fluktuatif.

"Investor asing masih wait and see untuk masuk ke pasar emerging market karena melihat perkembangan global," paparnya.

Di sisi lain, Fikri C Permana, Ekonom Pefindo, menyebut, potensi asing kembali ke SBN masih terbuka. Alasannya, yield SUN acuan masih tergolong jumbo dan spread dengan yield US Treasury masih di atas 500 bps. (Kontan/Danielisa Putriadita)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved