Pembangunan Tol Yogya-Solo, Inilah Desa Paling Banyak Terdampak hingga 164 Rumah di Sleman

Dalam program Jalan Tol Yogya-Solo akan melewati enam kecamatan dan 14 desa dengan panjang jalan kurang lebih 22,36KM.

Editor: m nur huda
Tribunjogja.com | Alexander A
Gambar Trase Tol Yogya-Solo dan Semarang-Yogya 

TRIBUNJATENG.COM - Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Provinsi DIY mengadakan sosialisasi perdana rencana pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Yogya-Solo, Senin (18/11/2019).

Bertempat di Aula Lantai III Setda Kabupaten Sleman, Dispertaru DIY mengundang camat dan kepala desa yang wilayahnya terdampak pembangunan Tol Yogya-Solo.

Dalam program Jalan Tol Yogya-Solo akan melewati enam kecamatan dan 14 desa dengan panjang jalan kurang lebih 22,36KM.

Desa-desa yang akan dilewati yakni Tamanmartani, Selomartani, Tirtomartani, Purwomartani di Kecamatan Kalasan.

Desa Bokoharjo di Kecamatan Prambanan, dan Desa Maguwoharjo, Condongcatur, dan Caturtunggal di Kecamatan Depok.

Bergerak ke arah timur ada ada desa Sariharjo di Kecamatan Ngalik, kemudian ada desa Sinduadi, Sendangadi, Tlogoadi, dan Tirtoadi di Kecamatan Mlati dan terakhir Desa Trihanggo di Kecamatan Gamping.

Dokumen perencanaan pembangunan tol Yogya-Solo dan Bawen-Yogya dikembalikan karena data persil dan bidang belum bisa dibaca.
Dokumen perencanaan pembangunan tol Yogya-Solo dan Bawen-Yogya dikembalikan karena data persil dan bidang belum bisa dibaca. (Tribunjogja.com |)

Dari kesemua desa terdampak, Desa Purwomartani di Kecamatan Kalasan yang memiliki jumlah bidang terdampak paling banyak, yakni 639 bidang dengan perkiraan luas 448.162 m2.

Kepala Desa Purwomartani Samiono mengatakan lahan yang terdampak pembangunan jalan tol mayoritas sawah, namun tak sedikit rumah warga yang terkena.

Dari data yang ia terima dari Dispertaru DIY terdapat 164 rumah warga yang akan terdampak.

"Sudah menerima daftar pemilik lahan, namun setelah kita verifikasi banyak yang tidak cocok. Karena itu mengaksesnya mungkin dari daftar PBB, sementara tanah itu sudah bergulir beberapa kali, selama PBB tidak diubah makamasih atas nama pemilik lama," ujarnya.

Pihaknya pun setelah ini akan melakukan pendataan ulang terkait hal tersebut.

Sementara saat disinggung respon warga dalam perencanaan pembangunan jalan tol, ia menyebut bahwa pro kontra itu adalah hal yang pasti.

Menurutnya, bagi yang terkena dan merasa diuntungkan akan mendukung program ini. Namun bagi yang sudah memiliki tempat tinggal dan nyaman apalagi memiliki tempat usaha, cenderung kontra.

"Sementara yang jadi pertanyaan adalah ganti untungnya berapa. Saya yakin jadi pertanyaan besar dari seluruh warga. Selama ganti untungnya di atas harga pasaran, ya mesti relatif lebih gampang. Tapi yang jadi masalah kalau harga itu ternyata di bawah rata-rata dari harga pasar," bebernya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved