Ngopi Pagi

FOKUS : Transformasi Prostitusi

PEMKOT Semarang sukses menutup lokalisasi Sunan Kuning (SK) tanpa gejolak, yang disertai pemberian tali asih serta pelatihan keterampilan

FOKUS : Transformasi Prostitusi
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

PEMKOT Semarang sukses menutup lokalisasi Sunan Kuning (SK) tanpa gejolak, yang disertai pemberian tali asih serta pelatihan keterampilan beberapa hari lalu. Dilanjutkan lagi dengan menutup lokalisasi Gambilangu (GBL), Selasa 19 November 2019 di Mangkang perbatasan Kota Semarang dengan Kabupaten Kendal.

Ada ratusan wanita pekerja seks (WPS) yang dipulangkan ke daerah asal masing-masing. WPS disaksikan didampingi tokoh masyarakat dan tokoh agama, mendeklarasikan diri tidak membuka kembali prostitusi di kawasan GBL.

Tiap wanita pekerja seks mendapat tali asih Rp 6 juta. Dan jauh hari mereka telah diberikan pelatihan keterampilan, bekal hidup "normal" mencari nafkah setelah "bubar" dari GBL ini. Dirjen Rehabilitasi Sosial, Tuna Susila dan Korban Perdagangan Orang Kementrian Sosial, Waskito Budi Kusumo menyebut, pemerintah akan merampungkan target penutupan seluruh lokalisasi di tahun 2019 ini.

Gambilangu menjadi lokalisasi ke 162 yang ditutup, dari target total 169 lokalisasi. Artinya, ada puluhan ribu WPS yang "undur diri" dari dunia hitam. GBL juga merupakan lokalisasi terakhir ditutup di Jawa.

Dana Rp 6 juta dianggap oleh sebagian WPS tidak cukup untuk melanjutkan hidup normal dengan berhenti sebagai pekerja seks. Dan memang mau diberikan dana berapapun dianggap tidak akan cukup. Kecuali mereka sadar untuk kerja keras menjalani profesi yang jauh dari istilah menjual diri.

Berbeda dengan tamsil layangan putus atau bahasa Jawa layangan pedhot. Wanita dengan empat anak ditinggal oleh sang suami yang memilih perempuan lain. Mendapat banyak simpati dan empati dari pembaca. Sedangkan WPS ini bukan layangan putus. Memang dari awal benang telah putus. Sengaja menjajakan diri untuk cari nafkah. Mengesampingkan dampak, bahwa profesi yang mereka jalani, secara tidak langsung mengganggu keharmonisan rumah tangga orang lain.

Saat ini, para WPS tidak kurang akal untuk tetap menjajakan diri demi rupiah, demi bertahan hidup. Bukankah mereka tidak gagap teknologi (gaptek) bahkan lebih rajin update status di media sosial untuk tetap eksis. Gadget mereka juga canggih. Mudah untuk mempromosikan diri sendiri di media sosial. Bisa memberikan layanan 'kenikmatan', menghibur pria hidung belang dan banyak istilah lagi. Yang intinya para WPS menjelma diri di dunia maya untuk cari pelanggan. Mereka bertransformasi melalui dunia maya.

Masalah penampilan dan wajah bisa dimanipulasi menggunakan aplikasi di gadget. Melalui ponsel itu, tawaran mereka di dunia maya, nunggu disambut pengguna. Diksi "mereka" di sini, belum tentu 'alumni' lokalisasi SK maupun GBL. Karena sebelum dua lokalisasi itu ditutup, praktik penawaran jasa prostitusi secara online sudah bermunculan dan berseliweran.

Ibarat kata, prostitusi sudah ada sejak zaman dahulu. Padahal pihak berwenang tidak kurang-kurangnya melakukan penertiban. Toh mereka para WPS dari kalangan murah hingga mahal juga ada. Dan semua laku. Berarti ada penjual dan pembeli, penyedia dan pengguna jasa. Itulah fakta transformasi prostitusi. Ambyar di media sosial meski telah dipantau dan diintai polisi. Masyarakat turut bantu antisipasi. (iswidodo)

Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved