Rabu, 20 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Ribuan santri, wali santri dan masyarakat mengikuti peringatan Mauludan di Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang.

Tayang:
Editor: abduh imanulhaq
IST
Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH Masruchan Bisri menjelaskan tentang Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam acara Peringatan Mauludan 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ribuan santri, wali santri dan masyarakat mengikuti peringatan Mauludan di Ponpes Askhabul Kahfi Mijen Kota Semarang.

Dalam acara ini pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH. Masruchan Bisri menjelaskan tentang Sejarah Kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW  lahir dari keluarga sederhana dan dalam keadaan yatim karena ditinggalkan ayahnya yang bernama Abdullah bin Abdul Mutholib ketika Nabi masih dalam kandungan ibunya yang bernama Siti Aminah kurang lebih 2 bulan.

Nabi Muhammad SAW lahir sesaat sebelum fajar hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (50 hari setelah peristiwa gajah), bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M di Mekkah, tepatnya di Lembah Abu Tholib, yaitu kawasan Bani Hasyim bertempat tinggal.

Tempat ini sekarang dibangun sebuah perpustakaan yang bernama : Maktabah Makkah Al Mukarromah oleh Syekh Abbas Al Qaththan tahun 1370 H / 1950 M yang sebelumnya sebuah masjid yang dibangun oleh Al Khaizaran, ibu Kholifah Harun Ar-rasyid pada dinasti Abbasiyah.

Dinamakan Tahun Gajah

Pada tahun itu, Kota Mekkah diserang oleh pasukan pimpinan Abrahah, gubernur dari Kerajaan Nasrani Abbessinia yang memerintah di Yaman. Mereka bermaksud untuk menghancurkan Kakbah karena iri melihat orang–orang pergi haji ke Kakbah Mekkah.

Namun sebelum sampai tujuan, tepatnya di Lembah Muhassir (tempat antara Muzdalifah dan Mina) gajah–gajah mereka berlutut ( jawa : njirum ) jika diarahkan ke Ka`bah.

Jika diarahkan selain Kakbah mereka lari kencang dan kalau dikembalikan ke arah Kakbah mereka berlutut lagi. Demikian ini berkali–kali hingga Allah SWT menghancurkan mereka dengan mengutus burung Ababil. ( Q.S Al Fiil ayat 1 - 5 )

Sebab dinamakan Makkah

Karena kota ini memusnahkan setiap orang yang berbuat dzolim di dalamnya.

Nabi lahir lain dari yang lain 

Sang jabang bayi lahir dari ibunya, kedua tapak tangannya menapak di atas tanah layaknya orang yang sedang sujud ketika sholat. Namun, bagian kepalanya menoleh ke atas dan wajahnya menatap ke arah langit.

Nabi Muhammad SAW lahir sudah berkhitan, tali pusarnya sudah terpotong, kedua matanya bercelak, bersih dan harum baunya. Perkembangannya 1 hari seperti 1 bulan. Berdiri tegak umur 3 bulan, berjalan umur 5 bulan, dan berbicara lancar umur 9 bulan.

Yang memberi nama Muhammad dan sebab dinamakan Muhammad

Yang memberi nama Muhammad adalah kakeknya yang bernama Abdul Mutholib atas dasar ilham dari Allah SWT pada hari ke 7 kelahirannya. Sebab dinamakan Muhammad agar anak tersebut kelak di kemudian hari terpuji, baik di langit maupun di bumi.

Nasab Nabi Muhammad sampai Nabi Adam AS

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilab bin Murroh bin Ka`ab bin Lu`ay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudzrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan bin Udd bin Udad bin Muqowwam bin Naahuuro bin Tairoh bin Ya`rub bin Yasyjub bin Naabit bin Isma`il bin Ibrahim bin Tarokh bin Naahuuro bin Syaruukh bin Arghu bin Falakh bin `Aabar bin Syaalakh bin Arfakhsyadz bin Saam bin Nuh bin Laamak bin Mutawasylikh bin Idris bin Yarid bin Mahlaail bin Qoinan bin Yaanasy bin Syiit bin Adam Abil Basyar `alaihissholatu wassalam.

Wanita-wanita yang menyusui Nabi Muhammad SAW

Ada 3 wanita yang menyusui Nabi Muhammad SAW, yaitu :

  • Ibunya sendiri (Siti Aminah)
  • Tsuwaibah Al Aslamiyah (budaknya Abu Lahab/pamannya Nabi) yang telah dimerdekakan karena gembiranya atas kelahiran bayi yang bagus / ganteng
  • Khalimah Sa'diyah

Semula Khalimah tidak mau dan semua wanita yang bekerja menyusui pada waktu itu tidak mau karena Muhammad adalah bayi yatim dan dari keluarga sederhana. Dia mau karena tidak ada bayi yang lain (terpaksa).

Kejadian-kejadian aneh selama disusui dan diasuh oleh Khalimah

Khalimah berkata, “Pada saat awal aku menjemput Muhammad, ia mengenakan pakaian wol putih. Ia tidur nyenyak di atas kain sutra berwarna hijau dan bau wangi misik menebar darinya. Dengan hati – hati aku mendekatinya dan aku menaruh tanganku di dadanya. Kemudian ia membuka kedua matanya dan tersenyum dan dari kedua matanya muncul suatu cahaya yang terpancar hingga ke langit.”

Al Abbas RA, paman Nabi, berkata, ”Wahai Nabiyullah, yang membuat aku masuk dalam agamamu, karena aku menyaksikan salah satu tanda kenabianmu, yaitu aku melihatmu dalam tempat tidurmu ( ketika kamu masih kecil ). Sedang bercakap lembut dengan bulan dan menunjukkannya dengan jarimu dan bulan itu bergerak ke langit ke arah mana pun kamu menunjukkannya." Lalu Nabi bersabda, ”Saat itu aku memang bercakap – cakap dengannya dan ia (bulan) pun berbicara kepadaku, mengalihkan perhatianku agar aku tidak menangis, dan aku dapat mendengar suara sujudnya di bawah Arasy."

Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa: Khalimah meriwayatkan : bahwa ketika ia pertama kali membawa Muhammad, dia mengucapkan, ” Allahu akbar, Kabiirowwal khamdulillahi katsiroo, wasubhaanallahibuk ro tawwaashiila.”

Ibnu Abbas RA berkata : bahwa Al Shaym'a (saudara tiri perempuan Nabi) menyaksikan bahwa, beliau (Nabi) dinaungi suatu awan. Awan itu berhenti ketika ia berhenti dan awan itu bergerak di mana ia bergerak."

Bentuk Fisik Nabi

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA : Rasulullah tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek (sedang).

Tidak putih ambaq (sangat putih tanpa tercampur warna merah), tidak adham (sangat coklat), tidak ja'd qathath (tidak berambut keriting ) dan tidak sabth ( berambut lurus ) ( Jawa : njegrik ).

Muhammad pulang ke pangkuan ibunya

Setelah berusia +/- 5 tahun Muhammad di antarkan ke Mekkah kembali ke pangkuan ibunya. Setahun kemudian +/- 6 tahun usia Muhammad, Dia di ajak oleh ibunya ke Madinah bersama dengan Ummu Aiman ( budak peninggalan ayahnya ).

Adapun tujuan ke Madinah, yaitu : 1) untuk memperkenalkan kepada keluarga neneknya ( Bani Najjar ), 2) untuk ziarah ke makam bapaknya yang meninggal di Madinah pada usia 25 tahun.

Ketika pergi menuju ke Syam bersama kafilah dagang arab dengan membawa barang dagangan untuk berdagang di Syam dan beliau di makamkan di Pemakaman Keluarga Bani Najjar yang Bernama Darun Nabighoh.

Abdullah meninggalkan warisan 5 ekor unta, 1 kambing dan budak perempuan yang bernama Ummu Aiman.

Ibunya meninggal dunia

Ibunda Muhammad wafat di Abwa` ( sebuah desa yang terletak antara Madinah dan Juhfah kira – kira 23 mil / +/- 45,5 Km di sebelah selatan Kota Madinah ).

Setelah bersilaturrrahim dengan saudara – saudaranya  dari pihak suaminya ( Bani Najjar ) di Madinah.

Saat itu Muhammad berumur +/- 6 tahun 3 bulan. Kemudian Muhammad di bawa oleh Ummu Aiman ke Makkah untuk di serahkan kepada kakeknya yang bernama Abdul Mutholib yang pada saat itu menginjak usia 80 tahun.

Muhammad di asuh oleh kakeknya hanya sekitar 2 tahun dan setelah kakeknya wafat, Muhammad di asuh oleh pamannya yang bernama Abu Tholib.

Dalam asuhan Abi Tholib Muhammad banyak melakukan hal-hal penting, antara lain:

Mulai usia 8 tahun menggembala kambing Rasulullah SAW bersabda ; “ Tidaklah Allah mengutus seorang Rosul kecuali Dia pasti akan menjadi seorang penggembala kambing, maka para sahabat bertanya :” Engkau juga wahai Rosulullah ?”, Beliau menjawab “ ya, saya menggembalakannnya dengan mendapatkan upah dari penduduk Mekkah”. ( HR. Ahmad )

Usia 12 tahun ikut pergi ke Syam bersama pamannya Abi Tholib untuk berdagang.

Ketika umur 12 tahun beliau mengikuti pamannya dagang ke Negeri Syam.

Sebelum sampai di Syam, di tengah perjalanan tepatnya di desa Bushro bertemu dengan seorang Pendeta Nasrani yang `alim bernama Bukhoiro. Pendeta itu berkata sambil memegang tangannya Muhammad : “ anak ini adalah pemimpin para Rosul dan utusan Tuhan ( Allah ), inilah Nabi yang di utus sebagai Rahmat bagi alam semesta. Para saudagar Quraisy bertanya kepadanya apa dasar kamu mengatakan demikian ? aku melihat Khotam Annubuwwah ( Dalam Syarh Al Barjanji Khotam Annubuwwah adalah daging atau lemak yang hitam ( nampak timbul ) bercampur kekuningan ( seperti urat ), di sekelilingnya terdapat bulu – bulu rambut yang beriring – iringan seperti bulu kuda yang halus ), dipunggungnya antara kedua bahunya seperti buah Apel. Kemudian pendeta itu menyuruh pulang ke Mekkah.

Usia 15 tahun mengikuti perang Fijar ( perang besar antara suku Quraisy dan suku Kinanah di bulan suci Dzulqo`dah )

Semenjak wafatnya tokoh Quraisy yang berwibawa dan di segani yaitu Abdul Mutholib maka Mekah terjadi berbagai keributan dan kekisruhan hingga tumbuhlah perang besar antara Quraisy dan Kinanah yang bernama Perang Fijar. Dinamakan Perang Fijar karena terjadi di bulan suci yaitu Dzulqo`dah. 

Dalam peristiwa ini Muhammad aktif ikut dalam peperangan, dengan cara membantu pamannya Abu Tholib dalam penyediaan keperluan peperangan. Perang ini selesai setelah para tokoh Mekkah duduk bersama dan membuat suatu perjanjian ( baiah ) yang di namakan Hifdhil Fudhul yang isinya antara lain :” Barang siapa yang di aniaya, maka di bela bersama – sama “.

Menginjak masa dewasa ( +/- 17 tahun ) mulai berusaha sendiri dalam penghidupannya Muhammad adalah orang yang di kenal jujur dan amanah, maka dengan kejujurannya itu menarik simpati dan perhatian terhadap janda yang kaya dan wibawa yaitu Siti Khotijah binti Khuwailid untuk mempercayai dan memberi amanat menjualkan dagangannya ke Syam.

Perjalanan ke Syam di dampingi oleh pembantunya yang namanya Maisaroh di Syam +/- 2 bulan. Beliau pulang ke Mekkah dengan membawa hasil yang maksimal dan luar biasa, hingga membuat Khotijah heran dan ingin tahu apa yang di lakukan oleh Muhammad pada waktu berdagang di Syam.

Khotijah bertanya kepada pembantunya Maisaroh, lalu dia menceritakan tentang sepak terjang beliau ketika berdagang, jujur, amanah, ramah tamah dan semua kebaikan telah di lakukannya.

Umur 25 tahun menikah dengan Siti Khotijah, Mendengar jawaban tersebut Khotijah semakin kagum dan tertarik kepadanya.

Kemudian ia memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya kepada Muhammad. Ia berkata :” Wahai anak pamanku sesungguhnya aku sangat mencintaimu, karena di antara kita masih ada hubungan family, juga karena sifat amanah, kejujuran dan kerukunan budi pekertimu”.

Khotijah juga mengutarakan isi hatinya kepada paman – pamannya Nabi. sehingga Hamzah ( pamannya ) menemui Khuwailid dan melamarkan Khotijah untuk Muhammad. Kemudian dalam tempo yang tidak begitu lama akad pernikahan berlangsung dengan lancar dan baik.

Ketika pernikahan, Muhammad berusia 25 tahun dan Khotijah 40 tahun, dan selama bersama Khotijah, beliau tidak menikah dengan wanita lain.

Para Istri dan Putra-Putri Nabi

Jumlah istri Nabi ada sebelas orang, 2 orang meninggal sebelum Nabi yaitu Khotijah dan Maariyah, dan 9 orang setelah Nabi, yaitu `Aaisah, Saudah, Maimunah, Juairiyah, Khafshoh, Hindun, Romlah, Zainab, dan Shofiyah.

Putra putri Nabi berjumlah 7 orang, 4 putri yaitu : Faatimah, Zainab, Ummi Kultsum, Ruqoyah dan 3 putra, yaitu : Qoosim, Abdullah dan Ibrahim. 7 putra putri tersebut berasal dari 2 istri yaitu 6 dari Khotijah dan 1 dari Maariyah, yakni : Ibrohim bin Maariyah al Qibtiyah.

Semoga Allah memberkahi umurnya orang - orang yang mencintai Nabi dan meninggal dunia dalam keadaan menjalankan ajaran Nabi ( khusnul khotimah ). (*)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved