Breaking News:

Silent Killer di Pesisir Utara Semarang Itu Bernama Amblesan

Setiap tahun, penurunan permukaan tanah (land subsidence) atau amblesan di pesisir utara Kota Semarang semakin parah

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muslimah
Tribunjateng.com/Mamdukh Adi Priyanto
Kepala BPBD Jateng, Sudaryanto (kedua kanan) menerima Atlas peta Sebaran Tanah Lunak Indonesia dan Atlas Sebaran Batu lempung Bermasalah Indonesia dari Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar (kiri) di Hotel Patra Jasa, Rabu (20/11/2019). 

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Setiap tahun, penurunan permukaan tanah (land subsidence) atau amblesan di pesisir utara Kota Semarang semakin parah.

Amblesan tanah adalah sebuah peristiwa turunnya permukaan tanah yang disebabkan karena adanya perubahan volume lapisan batuan yang terkandung di bawahnya.

"Penurunan tanah di wilayah utara Kota Semarang itu penurunannya hingga 10 sentimeter pertahun. Namun, di beberapa titik penurunannya berbeda- beda, dari 2-10 sentimeter," kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rudy Suhendar, saat di Semarang, Rabu (20/11/2019).

Daerah dengan kondisi paling parah yakni antara lain di Genuk, Terboyo Wetan, Terboyo Kulon, dan Tambaklorok.

Menurunnya muka tanah ini, kata dia, biasanya terjadi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini terkadang membuat masyarakat tidak dapat secara langsung menyadari peristiwanya.

Oleh karena itu, amblesan tanah juga sering dinamakan sebagai 'The Silent Killer', karena proses yang kejadiannya berlangsung secara perlahan namun pasti dan sangat merugikan.

Rudy menyebutkan penyebab adanya penurunan tanah di beberapa wilayah di pesisir utara Kota Semarang dan Pantai Utara Jawa dapat dibagi menjadi dua faktor, yaitu alamiah (natural) dan manusia (antropogenik).

"Faktor alamiah yang dapat mempengaruhi amblesan tanah yakni sifat alami konsolidasi tanah, umumnya berada pada endapan yang relatif muda (kuarter) dan pengaruh adanya tektonik, biasanya disebabkan adanya struktur geologi," jelasnya.

Sementara, faktor yang disebabkan manusia adalah pengambilan air tanah yang tidak terkontrol dan pembebanan dari bangunan infrastruktur yang berlebihan.

"Pengambilan air tanah yang berlebihan, dipercaya sebagai satu penyebab penurunan tanah yang cukup signifikan untuk kota-kota besar di Indonesia. Tidak hanya Kota Semarang, hal serupa juga terjadi di Surabaya, Bandung, dan Jakarta," ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved