Sawali : Buku Dusta Yudistira Ekspresi Kegelisahan Terhadap Permasalahan Sosial dan Politik

Buku karya Pewarta Tribun Jateng, Achiar M Permana itu merupakan ungkapan kegelisahan dari sudut penulis terhadap maraknya informasi bohong

Penulis: Dhian Adi Putranto | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/DHIAN ADI PUTRANTO
Achiar M Permana (memakai kemeja putih) tengah menerangkan latar belakang pembuatan Buku 'Dusta Yudistira' dalam acara bedah buku di Kendal pada Jum'at (22/11) 

TRIBUN JATENG.COM, KENDAL - Mendeskripsikan sebuah persoalan sosial maupun politik menggunakan analogi jagat perwayangan yang dapat dijumpai dalam Buku kumpulan esai berjudul 'Dusta Yudistira'.

Buku karya Pewarta Tribun Jateng, Achiar M Permana itu merupakan ungkapan kegelisahan dari sudut penulis terhadap maraknya informasi bohong yang seperti saat ini terjadi di Bumi Indonesia sehingga antara kebenaran dan kebohongan sulit untuk dibedakan.

Hal itu yang diungkapkan oleh Sawali Tuhusetya, sastrawan yang menetap di Kabupaten Kendal pada acara Bedah Buku berjudul 'Dusta Yudistira' di Kendal pada Jum'at (22/11) sore.

Bedah buku itu juga dipandu oleh jurnalis dari Kompas.com yakni Slamet Priyatin

Sawali menuturkan bahwa tulisan-tulisan yang ditulis Achiar dalam buku itu berupaya membidik persoalan sosial dan politik yang dianggap mengalami anomali sehingga patut untuk dikritisi dan digelisahkan.

Namun tulisan itu kemas dalam analogi jagat perwayangan.

"Permasalahan seperti hoaks yang terus berseliweran di kanal media sosial, meruyaknya intoleransi, maraknya terorisme, sosok yang kerap menganggap dirinya merasa paling benar, pemuja hidup hedonis, hilangnya akal sehat, hingga jurnalis yang dinilai gagal merawat idealisme," ujarnya.

Salah satu cerita jagat pewayangan yang diangkat dalam buku tersebut yakni sosok Yudistira yang terkenal suci dan tak sanggup berbohong.

Namun pada akhirnya Yudistira harus menyampaikan kebohongan tentang kematian putra Mahaguru Drona yakni Aswatama untuk menyelamatkan para Pandawa lainnya.

"Pada akhirnya patron Pendawa berdarah putih itu harus tunduk mengikuti jalan sesat untuk menyelamatkan para Pandawa dari kedigdayaan Mahagurunya. Mahagurunya akhirnya kalah karena kebohongan masif yang disampaikan oleh Pandawa," tuturnya.

Di akhir acara bedah buku itu, Achiar mengatakan bahwa dirinya sejak kecil sudah akrab dengan cerita wayang.

Dirinya pun juga beberapa kali menulis sosok-sosok dalang kondang di negeri ini.

Ia menambahkan bahwa buku yang ia tulis berisi 40 esai karyanya yang sebagian besar pernah termuat dalam harian cetak Tribun Jateng. Tulisan itu dimuat dalam rubrik focus sebagai pengganti rubrik editorial.

"Sebagian besar esai yang termuat dalam buku ini, berbalut cerita wayang, baik dari wiracarita Mahabarata maupun Ramayana. Dengan cerita wayang itu saya gunakan sebagai kaca benggala, pisau, dan kadangkala, kamera, untuk bercermin, membedah, memotret, atau sebagai ibrah atas persoalan kiwari," pungkasnya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
BERITATERKAIT
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved