FOKUS : Menanti Taring Ahok di Pertamina

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok resmi ditunjuk Presiden Joko Widodo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir

FOKUS : Menanti Taring Ahok di Pertamina
tribunjateng/bram
Galih P Asmoro wartawan Tribun Jateng 

Oleh Galih Pujo Asmoro

Wartawan Tribun Jateng

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok resmi ditunjuk Presiden Joko Widodo dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menjadi Komisaris Utama (Komut) Pertamina. Pekan ini, rencananya Pertamina bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Jauh sebelum kepastian muncul, saat desas desus Ahok akan jadi bos perusahaan pelat merah itu, pro dan kontra telah bermunculan. Banyak yang menentang namun tidak sedikit pula yang mendukung.

Sejauh ini, di luar kasus yang menyeretnya hingga mendekam di penjara, Ahok dikenal sebagai sosok yang tegas dan keras. Bahkan, peneliti Alpha Research Database Indonesia Ferdy Hasiman menitipkan harapan agar Ahok segera memberantas mafia migas dari hulu hingga hilir. Tugas pertama Ahok menurutnya adalah memberantas mafia migas hingga ke akar-akarnya.

Meskipun Presiden Jokowi telah melikuidasi Petral melalui Tim Reformasi Tata Kelola Migas di awal pemerintahannya, namun, mafia migas disinyalir masih ada. Untuk itulah kata Ferdy, Ahok bisa menjadi tangan kanan Presiden RI dalam memberantas mafia seiring dengan jabatan Komut yang diembannya.

"Mafia ini masih menempel sambil mencari celah bagaimana mereka mencoba bermain kembali dan bagaimana Presiden Jokowi bisa melunak," ungkap Ferd seperti dilansir Kompas.com, Minggu (24/11).

Oleh karena itu, Ahok harus menunjukkan taringnya. Jika sudah demikian, tentunya keberadaan Ahok di Pertamina akan cukup menggentarkan mafia migas yang diduga masih eksis, maupun oknum orang dalam yang main mata. Meskipun, dengan posisi Komut, Ahok tidak mengurusi operasional, hanya pengawasan terhadap direksi dan mengevaluasi program kerja.

Sedangkan Menteri BUMN Erick Thohir melalui Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, pengangkatan Ahok dikarenakan kemampuannya dalam hal pengawasan. Untuk percepatan kinerja Pertamina itulah, Ahok diminta memelototi direksi.

Di luar pro dan kontra, Ahok sudah hampir pasti menjabat sebagai Komut Pertamina. PR Ahok di Pertamina sangat bannyak. Tak hanya indikasi masih eksisnya mafia migas, namun ia juga harus mengevaluasi kebijakan di Pertamina.

Mampukah Ahok mengatasi persoalan penyaluran bahan bakar bersubsidi tepat sasaran? Mengingat, acap kali masih terdengar cerita kelangkaan elpiji melon di masyarakat. Hal yang kerap mengemuka, itu dikarenakan banyak orang mampu yang memilih menggunakan elpiji bersubsidi.

Belum lagi mengenai defisit neraca perdagangan sektor migas yang mengalami defisit. Ada juga target bauran energi, lalu energi baru terbarukan, dan juga pembangunan infrastruktur di mana Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGN) tergabung dalam holding BUMN migas.

Kita tinggal menantikan apa gebrakan Ahok selanjutnya. Apakah dia seperti dulu, sosok yang meledak-ledak? Atau pengalaman di hotel prodeo yang berawal dari pernyataannya, bakal mengubah dia? Namun secara pribadi saya berharap, Ahok yang dulu masih tersisa.

Sosok yang berani mempublikasikan penghasilannya – karena dikabarkan ia bakal memperoleh miliaran rupiah per bulan karena jabatannya itu – serta sosok yang berani menelanjangi borok dan kebobrokan di hadapan publik. (*)

Penulis: galih pujo asmoro
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved