Kisah Guru Wiyata di Desa Terpencil Kebumen, Gaji Kecil Taruhan Nyawa

Tubuh dan kendaraannya tersangkut di batang pohon yang berdiri di tebing, lima meteran di bawah jurang itu.

Kisah Guru Wiyata di Desa Terpencil Kebumen, Gaji Kecil Taruhan Nyawa
tribun jateng/ khoirul muzaki
Muhrojin guru wiyata bhakti di wilayah perbatasan, SDN 4 Selogiri Karanggayam Kebumen 

TRIBUNJATENG.COM, KEBUMEN - Muhrojin (32), pengajar SDN Selogiri 4 Kecamatan Karanggayam Kebumen harus melantangkan suara di dalam kelas saat mengajar.

Riuh di kelas sebelah terbawa sampai ke kelasnya.

Jika tak demikian, materi yang disampaikannya tak tertangkap siswa.

Maklum, antara kelas 3 dan 4 hanya terpisah papan triplek yang tak kedap suara.

Tembok kayu itu nyatanya gampang sekali rapuh.

Papan tulis yang sekaligus berfungsi sebagai sekat antar kelas itu berlubang sebesar kepala.

Karenanya, bukan hanya keramaian yang terdengar, aktivitas siswa yang berlarian di kelas sebelah pun terlihat dari lubang itu.

Mengajar siswa bukan hal mudah tentu.

Muhrojin tak jarang dibuat gemas anak didiknya yang susah diatur.

Tetapi di luar itu, anak-anak dengan dunianya memang menyenangkan.

Halaman
1234
Penulis: khoirul muzaki
Editor: Daniel Ari Purnomo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved