Ngopi Pagi

FOKUS : Guru Pembimbing Bukan Penilai

Peringatan Hari Guru Nasional kali ini memiliki nuansa berbeda. Biasanya, yang menjadi perhatian utama

FOKUS : Guru Pembimbing Bukan Penilai
tribunjateng/bram kusuma
Tajuk ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, M Nur Huda 

Oleh M Nur Huda

Wartawan Tribun Jateng

Peringatan Hari Guru Nasional kali ini memiliki nuansa berbeda. Biasanya, yang menjadi perhatian utama adalah kesejahteraan guru, kali ini perhatiannya adalah dorongan guru untuk bergerak menjadi motor pembelajar bagi para calon pemimpin.

Hal itu berkat sambutan singkat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makariem pada peringatan Hari Guru Nasional 2019.

Tak hanya singkat, Nadiem juga mencoba membuka cara pikir guru untuk memposisikan diri sebagai agen perubahan. Ia berupaya memberi pemahaman bahwa tiap anak didik memiliki potensi yang berbeda, guru diupayakan membimbing mengembangkan potensi tersebut.

Sudah masyhur, sistem pendidikan di tanah air selama ini masih memposisikan anak didik sebagai kotak kosong, kemudian wajib diisi dan dijejali berbagai materi yang tidak boleh ditolak.

Padahal jika direnungi, hakekat Tuhan menciptakan manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tuhan telah menyisipkan potensi pada tiap diri manusia, sehingga tidak mungkin dipaksa untuk diseragamkan dan distandarkan hanya melalui buku pelajaran.

Teringat sosok Socrates, seorang paedagogik atau pengajar, yang berjuang mencitakan system pembelajaran. Ia tidak memposisikan anak didik sebagai pendengar, melainkan sebagai mitra berdiskusi.

Melalui diskusi, tiap anak didik mampu mengungkapkan passion dan berupaya berjuang mengembangkannya hingga sukses. Akan sangat bahagia jika tiap orang berjuang demi passion yang dimiliki.

Nadiem mencoba memanusiakan guru dengan mengajak mereka memposisikan anak didik sebagai mitra. Serta mengembalikan ruh guru sebagai pembimbing, bukan sekadar penilai.

Semuanya merindukan sosok guru yang digugu dan ditiru. Guru tak hanya istilah profesi semata yang hanya melekat di ruang kelas. Ia dituntut bertindak atau bersikap menjadi suri tauladan bagi siswanya maupun masyarakat sekitarnya.

Hakekat guru adalah sosok yang memberi pengetahuan dan jadi panutan pada orang lain. Orangtua dalam keluarga juga menjadi guru bagi anak-anaknya, para pemimpin di negeri ini menjadi guru bagi rakyatnya, semua pihak bertanggungjawab mempersiapkan peradaban bangsa di masa depan.

Termasuk, media massa juga menjadi guru bagi peradaban manusia. Informasi yang disajikan mampu mendidik dan mengarahkan pada sebuah peradaban. Jika menu sajiannya sehat, maka peradaban manusianya akan tumbuh dengan sehat dan penuh optimisme.

Hari Guru Nasional mestinya tak sebatas jadi seremonial tahunan, melainkan sebagai penggugah para orang yang memilih menjadi guru untuk kembali ke pemahaman dasar, bahwa menjadi guru berarti mengabdi.

Hari ini, guru ditantang untuk menciptakan generasi penerus yang mampu bersaing skala global. Guru juga ditantang sejauh mana keikhlasanmu menjadi pendidik agar anak didikmu mendapatkan keberkahan atas jerih payah dan peluhmu. Selamat menjadi pembimbing, jangan sekadar menjadi penilai(*)

Penulis: m nur huda
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved