BERITA LENGKAP: Mahfud Jelaskan 3 Wujud Radikalisme dan Aksi Teror Libatkan Milenial dan Perempuan

Sudah 30 orang ditangkap karena diduga terlibat dalam serangan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, 13 November lalu.

BERITA LENGKAP: Mahfud Jelaskan 3 Wujud Radikalisme dan Aksi Teror Libatkan Milenial dan Perempuan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribunnews.com di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (19/11/2019). 

Tahun ini, kata dia, kasus paling menonjol kasus penusukan Wiranto, kemudian ledakan bom di Kota Sibolga, serta yang terakhir ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan.

"Tapi sekarang kualitasnya itu, berubah variasi tindakannya. Kalau dulu tindakan teror itu dilakukan oleh orang yang sudah tua, laki-laki dewasa biasanya. Tetapi yang sekarang perempuan ikut," katanya.

Dicontohkan Mahfud kasus bom di Sibolga, yakni ada perempuan yang meledakkan diri. Kemudian dalam kasus penusukan Wiranto juga ada perempuan juga terlibat.

"Yang di Jawa Timur perempuan, anak-anak juga terlibat," sambung Mahfud.

Untuk mengatasi bibit-bibit radikalisme itu, makanya dipandang perlu menerbitkan Surat Keputusan Bersama ( SKB) 11 menteri tentang penanganan radikalisme pada ASN.

Agar semua lini yang bisa menimbulkan radikalisme, bisa diatasi. Tetapi ditegaskan SKB ini tidak bisa dikatakan kembali seperti masa Orde Baru. Melainkan upaya melakukan pengawasan.

"Kenapa harus kembali ke Orde Baru. Tidak! Artinya semuanya bisa terkontrol sekarang. Tidak bisa dong sekarang kembali ke zaman otoriterisme seperti itu. Sudah tidak mungkin. Bagaimana caranya?" katanya.

Mahfud menegaskan, selama ini narapidana teroris (napiter) sudah dilibatkan dalam upaya deradikalisasi.

Misalnya Ali Imron. Dia selalu disuruh berpidato bahwa radikalisme berbahaya. "Lalu ada Alif Fauzi juga dilibatkan oleh polisi berceramah sendiri bahwa terorisme itu berbahaya dan tidak menguntungkan siapapun jadi napiter ini dibina," katanya.

Terpisah, Umar Patek narapidana terorisme yang divonis 20 tahun penjara karena terlibat insiden Bom Bali I tahun 2002 kini sudah sering menjadi pengibar bendera merah putih di Lapas Porong Sidoarjo, Jatim.

Halaman
1234
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved