Pengunjung Diizinkan Pegang Koleksi Berumur 2.100 Tahun - Jelajah Tempat Asyik di Kota London

British Museum sangat mudah ditemukan karena terletak di pusat kota London atau tepatnya di Great Russell Street, London.

Pengunjung Diizinkan Pegang Koleksi Berumur 2.100 Tahun - Jelajah Tempat Asyik di Kota London
TRIBUN JATENG/ERWIN ADRIAN
Suasana di depan British Museum, London, Sabtu (30/11/2019). 

Selain berupa tulisan, penjelasan mengenai benda bersejarah juga bisa didengar lewat suara dengan memasang aplikasi khusus di smartphone.

Di antara, banyaknya koleksi yang menarik, sebagai orang Indonesia, tentu saja saya tertarik dengan kepala patung Budha yang mirip dengan patung di Borobudur.

Jelajah Kota London 2
John Bulwer, ahli sejarah yang menjelaskan koleksi museum kepada pengunjung.

Dari penjelasan yang ada, ternyata benar.

Potongan kepala patung itu memang benar berasal dari Borobudur Indonesia.

Koleksi asli Indonesia itu didekatkan didekatkan dengan benda-benda lain yang terkait agama Budha dari waktu yang hampir sama.

Setelah berkeliling, ada sosok yang menarik perhatian.

Seorang laki-laki tua berjanggut putih sedang duduk.

Di atas meja di depannya, ada empat benda kecil mirip koleksi museum.

Tiga orang pengunjung asyik berdiskusi sambil memegang-megang benda-benda itu.

Rasa penasaran terjawab setelah membaca tulisan penjelasan di samping pria itu.

Rupanya pihak museum mengizinkan pengunjung menyentuh langsung benda asli koleksi museum.

Tak hanya itu, pengunjung boleh bertanya apa saja soal benda yang dipegang.

Ternyata kakek itu adalah ahli sejarah yang yang siap melayani rasa penasaran.

Asyik bukan?

Dari papan nama yang dikenakan di dada kanan, pria itu bernama John Bulwer.

John sedang menjelaskan soal benda kuno yang berasal dari abad 21 sebelum Masehi, atau 2.100 tahun sebelum 1 Januari tahun 01!

“Silakan saja, Anda boleh memegang benda ini."

Jangan takut, Kami masih punya banyak stok seperti ini di dalam,” kata John bercanda saat melihat saya mendekat.

Agak gemetaran saya memegang batu mirip kapsul berukuran segenggaman tangan itu.

Tak diragukan lagi, itulah benda berusia paling tua yang pernah saya pegang seumur hidup saya!

Dari penjelasan John, benda itu adalah semacam pengirim pesan yang ditemukan di wilayah Mesopotamia, sebuah kerajaan kuno di Timur Tengah.

Saat ini wilayahnya menjadi Republik Islam Irak.

Dengan gamblang, John menjelaskan lambang-lambang di batu kecil itu.

“Saya tidak tahu persis apa maksud mereka meninggalkan benda ini, tapi sepertinya mereka yang berkuasa saat itu ingin meninggalkan pesan buat generasi berikutnya,” kata John ramah.

Tanya jawab dan diskusi pun terus berlangsung.

Dengan sabar John mendengar dan memberikan penjelasan.

Kalau ada pertanyaan yang tak bisa dijawabnya, John tak ragu untuk mengaku tidak tahu.

Bahkan diskusi menjadi lebih menarik ketika John mengajak saya membahas apa kira-kira jawaban yang masuk akal dari pertanyaan yang tak terjawab. Seru!

Sesekai John melihat jam di tangannya.

Di tengah diskusi panjang, John tiba-tiba memasukkan semua benda-benda di depannya ke dalam laci.

“Maaf, waktu telah habis, saya harus tutup,” kata John saat melihat raut kekecewaan di wajah saya.

Saking asyiknya diskusi, tak terasa waktu sudah tepat menunjukkan pukul 16.00.

Warga Inggris memang dikenal sangat tepat waktu.

“Terima kasih, silakan ke sini lagi lain waktu,” kata John.

Perang Dunia

Selain British Museum, saya juga mengunjungi Imperial War Museum di London.

Meski kalah besar dari British Museum, Imperial War Museum sangat menarik bagi penggemar sejarah Perang Dunia.

Di sana tersaji lengkap kisah dan benda-benda yang terkait dengan semua perang yang diikuti Inggris.

Jelajah Kota London 3
Bangunan Imperial War Museum Kamis (27/11/2019).

Yang unik dari museum ini, sensasi suasana perang bisa dirasakan di dalam gedung.

Ada suara pesawat melintas, disertai bunyi tembakan dan bom yang sesekali terdengar.

Bahkan untuk mendramatisir, perang parit di Perang Dunia I, ada ruangan mirip parit di dalam museum lengkap dengan baju-baju perang dan senjata yang digunakan pada 1916.

Tak lengkap rasanya bagi penggemar sejarah kalau belum ke Istana Buckingham di London.

Tempat tinggal Ratu Elisabeth II itu tetap menjadi ikon yang paling banyak dikunjungi.

Saat berkunjung ke sana Minggu (1/12/2019) siang, suasana sudah seramai pasar.

Ribuan pengunjung yang datang dari berbagai belahan dunia rela bergiliran di dekat pagar istana hanya untuk berfoto.

Beberapa polisi tampak terus modar-mandir di depan istana.

Jelajah Kota London 4
Pengunjung di Buckingham Palace Minggu (1/12/2019).

“Itu ada bendera Inggris yang naik sampai atas, berarti Ratu sedang ada di Istana,” kata seorang polisi yang keberatan menyebut namanya, saat tahu saya adalah jurnalis.

Itulah uniknya Buckingham.

Tak ada atraksi khusus di sana kecuali pergantian penjaga saja.

Namun ribuan turis di seluruh dunia rela datang hanya untuk melihat dari luar istana kerajaan tertua yang masih ada di bumi ini.

Berikutnya ikuti tulisan tentang serunya belanja di London. (Erwin Adrian/bersambung)

Penulis: erwin adrian
Editor: deni setiawan
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved