Guru Honorer Agama di Kabupaten Tegal Dapat Santunan Program SGI dari ACT

Guru-guru honorer dan tahfidz di Kabupaten Tegal mendapat santunan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tegal, Rabu (4/12/2019) ini

Guru Honorer Agama di Kabupaten Tegal Dapat Santunan Program SGI dari ACT
Istimewa
ACT Tegal memberikan santunan kepada para guru honorer di Kabupaten Tegal. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Guru-guru honorer dan tahfidz di Kabupaten Tegal mendapat santunan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tegal, Rabu (4/12/2019) ini.

Santunan oleh ACT Tegal tersebut dikemas dalam program bernama 'Sahabat Guru Indonesia' (SGI).

Setidaknya, ada empat guru honorer atau ustadz/ustadz di Kabupaten Tegal yang mendapat santunan dari ACT Tegal.

Mereka di antaranya berasal dari TK/KB Yaa Bunayya, Desa Mejasem, Kecamatan Kramat dan pesantren Al Huda Al Mahamid, Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal.

"Tiga di antaranya adalah ustadzah dari TK/KB Yaa Bunayya. Kemudian, sisanya seorang ustadz tahfidz dari pesantren Al Huda Al Mahamid. bantuan bea hidup kepada 4 orang ustadz/ustadzah dengan harapan dapat sedikit membantu mencukupi kebutuhan hidup," ujar Kepala Cabang ACT Tegal, Siswartono dalam rilisnya kepada Tribunjateng.

Dia menjelaskan, tujuan program SGI ini adalah untuk memberikan kontribusi perbaikan pada permasalahan pendidikan di Indonesia.

"Lalu, tujuan berikutnya adalah sebagai Wasilah untuk menyemangati guru-guru Honorer dalam mengabdi bertahun-tahun," sambungnya.

Siswartono menyebut, tidak semua guru/ustadz masuk dalam program ini karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Di antaranya, guru-guru penerima program SGI ini harus berstatus honorer (non-PNS) dan berpenghasilan rendah (dibawah Rp 1 juta).

Kemudian, Guru-guru Tahfidz (pengajar ngaji) di pesantren atau di kampung-kampung pun dapat mendapat SGI.

Menurutnya, banyak perjuangan yang bisa diteladani dari para penerima Bea guru.

Beberapa di antaranya seperti Ery Ristinah yang masih aktif mengajar di TK/KB Yaa Bunayya sebagai guru honorer dengan gaji di bawah satu juta.

Setelah bekerja, Ery masih menyempatkan diri mengajar baca tulis Qur'an untuk anak berkebutuhan khusus dengan kafalah seikhlasnya.

"Dan saat ini beliau tengah diuji oleh Allah SWT, anak pertamanya (18th) didiagnosa mengidap epilepsi. Selain kisah Ibu Ery, ada lagi kisah dari ustadz Alfakhsy pemilik pesantren Al Huda Al Mahamid yang sudah bertahun-tahun menekuni sebagai guru pesantren, dan saat ini sudah 2 tahun lebih beliau sedang berikhtiar merintis pesantren & mengajar di pesantren sendiri meskipun dengan kondisi ala kadarnya," cerita Siswartono. (Tribunjateng/gum).

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved