Ali Rif'an: Penyebaran Paham Radikalisme Agama Menghambat Pembangunan SDM
Maraknya penyebaran isu radikalisme (dalam hal ini yang dimaksud ialah ekstremisme beragama) dapat mengganggu fokus pemerintah
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, PATI - Maraknya penyebaran isu radikalisme (dalam hal ini yang dimaksud ialah ekstremisme beragama) dapat mengganggu fokus pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM).
Generasi y (milenial) dan generasi z yang menjadi sasaran pembangunan SDM rentan terpapar radikalisme melalui media sosial (medsos).
Jika tidak memiliki literasi medsos yang baik, mereka akan mudah terpengaruh ideologi radikalisme, sehingga kemajuan bangsa terhambat.
Hal ini diungkapkan Direktur Arus Survei Indonesia, Ali Rif'an, ketika ditemui usai menjadi narasumber dalam acara Dialog Publik bertajuk "Literasi Medsos di Kalangan Mahasiswa dan Pemuda sebagai Upaya Deradikalisasi" di Aula Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAIP), Rabu (4/12/2019).
Acara ini diprakarsai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pati.
"Berdasarkan data dari suatu lembaga konsultan internasional, disebutkan bahwa pada 2030, Indonesia terancam kehilangan 23 juta pekerja. Makanya pemerintah sedang fokus ke sana. Artinya lulusan-lulusan yang ada hari ini dipersiapkan agar menjadi SDM yang mampu menjawab tantangan dunia kerja. Kalau ada isu radikalisme, agenda ini kan bisa terganggu," urainya.
Menurut Rif'an, dari data yang ia ketahui, mayoritas pengakses media sosial, termasuk Youtube, adalah generasi y dan z.
Sedangkan, saat ini ideologi radikalisme banyak disebarkan di medsos.
Tanpa menyebut nama, ia mengatakan, ada beberapa ustaz-ustaz berideologi radikal yang ceramah-ceramahnya populer di berbagai platform medsos.
"Kalau saya sebut nama sensitif. Tapi ada indikasi radikal menurut BNPT yang bisa jadi patokan untuk mengetahui apakah seorang penceramah berpaham radikal," ungkapnya.
Beberapa indikasi yang ia maksud ialah intoleran, fanatik, eksklusif, merasa paling benar sendiri, dan revolusioner.
Revolusioner di sini artinya dia ingin melakukan perubahan melalui penyebaran paham radikalisme.
Menurutnya, pengguna media sosial harus tahu ciri-ciri ini. Termasuk di dunia nyata, ciri-ciri orang berpaham radikal juga perlu diketahui.
Jika ada orang yang merasa benar sendiri, kalau salat tidak mau diimami orang di luar kelompoknya, itu ada indikasi radikal.
"Kemudian tidak mau memakan hasil sembelihan yang bukan dari kelompok mereka, itu juga ada indikasi radikal," paparnya.
Menurut Rif'an penting juga untuk membedakan radikalisme dengan terorisme. Kedua hal ini berbeda. Radikalisme adalah hulu, sedangkan terorisme merupakan hilir.
Radikalisme ada dalam pemikiran, sedangkan terorisme berbentuk aksi/tindakan.
"Radikalisme itu embrio terorisme. Kalau ini dibiarkan terus-menerus, pelan-pelan akan menguat, mengkristal menjadi terorisme," paparnya.
Penangkapan teroris oleh Densus 88, sebut Rif'an, ialah bentuk penanganan hilir menggunakan hard power.
Sedangkan penanganan radikalisme, menurutnya, harus dilakukan dengan soft power melalui diskusi dan dialog.
"Sebab, ideologi tertentu tidak bisa dilawan dengan cara-cara nonideologis. Karena radikalisme ini soal pemahaman dan isi kepala, tidak bisa ditangani dengan hard power. Jadi kita merangkul, bukan memukul," tegasnya.
Dialog Publik di STAIP yang diikuti sekira 150 peserta dari unsur pelajar, mahasiswa, dan karang taruna ini merupakan bentuk penanganan hulu.
Mengenai literasi medsos untuk mencegah paham radikal, Rif'an mengatakan, para anak muda jika mendapat broadcast harus saring sebelum sharing.
Kemudian, ia juga mendorong setiap orang untuk menjadi siskamling digital.
"Artinya, kita harus mengawasi keluarga kita. Saya punya anak dan istri, saya juga harus mengawasi apa yang diakses mereka, apakah berbau radikal atau tidak," jelasnya. (Mazka Hauzan Naufal)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dialog-publik-bertajuk-literasi-medsos-di-kalangan-mahasiswa-dan-pemuda.jpg)