Breaking News:

Menunggu Kesepakatan AS-China, Dana Asing Rp 996 Miliar Masuk Pasar Saham dalam 2 Pekan

Dalam dua pekan terakhir, asing melakukan aksi beli bersih, alias net foreign buy di bursa saham Indonesia.

Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/dok
Pasar saham merupakan tempat investasi menarik karena menawarkan keuntungan lebih tinggi dari bunga deposito bank dalam waktu yang singkat. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Dalam dua pekan terakhir, asing melakukan aksi beli bersih, alias net foreign buy di bursa saham Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg, Dalam dua pekan, total net foreign buy Rp 996,48 miliar.

Jumlah itu meliputi periode 25-29 November 2019, net foreign buy sebesar Rp 479,68 miliar, sedangkan pada periode 2-6 Desember 2019, net foreign buy mencapai Rp 516,8 miliar.

Dalam sepekan, saham yang paling banyak dibeli asing adalah PT MNC Kapital Indonesia Tbk. Pada Jumat (6/12), terdapat transaksi beli asing di pasar negosiasi untuk saham BCAP sebesar Rp 702,62 miliar.

Belum ada penjelasan dari manajemen mengenai transaksi itu. Tetapi, pada 16 Juli 2019, BCAP memiliki rencana penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD), alias private placement sebanyak Rp 3,71 miliar dengan nominal Rp 100.

Menurut Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, asing mulai kembali ke pasar dalam negeri menjelang pertemuan Amerika Serikat (AS)-China. Pasalnya, Presiden AS Donald Trump akan menandatangani kesepakatan dengan China.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus menilai, pekan ini adalah pekan krusial.

"Apabila kesepakatan ditandatangani, bursa pada minggu ketiga akan menggeliat positif. Namun, bila tidak ada kesepakatan, pasar akan bereaksi negatif," ujarnya.

Kinerja naik 2020

Analis MNC Sekuritas, Edwin Sebayang menuturkan, masuknya dana asing karena momentum kenaikan pasar secara siklus di Desember hingga Februari.

"Perkiraan saya, market akan meningkat signifikan setelah minggu depan, dan reli di Januari-Februari 2020," paparnya.

Hans berpendapat, masuknya asing juga didukung hasil riset JP Morgan yang memproyeksikan IHSG di akhir 2020 menyentuh 7.250.

JPMorgan menyebut, katalis positif koalisi di DPR pada pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mencapai 74 persen, akan mempermudah pemerintah dalam mengeksekusi kebijakan. Ada pula agenda omnibus law dan pelonggaran kebijakan moneter.

JPMorgan juga memiliki prediksi rata-rata laba per saham emiten (EPS) pada 2020 sebesar 12 persen. Kalau hitungan Hans, EPS tahun ini akan tumbuh 5-8 persen, sedangkan tahun depan di angka 10-12 persen.

Hans menyarankan saham sektor konstruksi, perbankan, dan infrastruktur seperti WIKA, WSKT, PTPP, ADHI, BBRI, BMRI, BBNI, ERAA, TLKM, JSMR dan PGAS. Adapun, Edwin menyarankan saham perbankan, rokok, energi, telekomunikasi, logam, timah dan properti. (Kontan/Benedicta Alvinta Prima/Rahma Wulan Mei Anjaeni)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved