Wisatawan Asal Semarang Ini Takjub Lihat Koleksi di Museum Batik Pekalongan

Izdihar Rachman (23) peserta Famtrip Jateng On The Spot Yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah merasa takjub

Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: muh radlis

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Izdihar Rachman (23) peserta Famtrip Jateng On The Spot Yang diselenggarakan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jawa Tengah merasa takjub melihat banyaknya koleksi batik, yang ada di Museum Batik Pekalongan, Jumat, (13/12/2019).

"Ternyata batik itu sangat bagus.

Apalagi, di Museum Batik ini banyak sekali koleksi batik dari berbagai daerah."

Tadi, kita juga mencoba belajar membatik cap di ruang pembelajaran batik," kata Rachman saat ditemui Tribunjateng.com.

Di Museum Batik juga sedang merayakan perayaan 10 tahun batik diakui oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan tak benda asli Indonesia.

"Tadi waktu kita berkunjung ke museum, ternyata masih ada kegiatan perayaan 10 tahun atau satu dasawarsa peringatan batik Indonesia yang diselenggarakan di halaman Museum Batik setempat," ungkapnya.

Sampah di Kabupaten Tegal Capai 700 Ton per Hari, Bupati Akhirnya Angkat Bicara

Jelang Akad Nikah, Tresya Oktavera Wedyastantri Putri Bupati Pati Ritual Siraman Pakai Air 7 Sumur

Viral Nenek Asal Tegal Ditemukan di Demak, Ketua RT Sebut Tumyati Sering Hilang

Sikal Temukan Siti Maryam Sudah Tak Bernyawa di Dalam Sumur Kecil Berdiameter 65 Cm

Rachman menambahkan ia sangat senang bisa ikut merayakan satu dekade batik diakui UNESCO.

Sementara itu, Wali Kota Pekalongan Saelany Mahfudz mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut sebagai dukungan yang menjadikan Kota Pekalongan satu destinasi unggulan pariwisata di Jawa Tengah.

Menurutnya, didirikannya Museum Batik Pekalongan bisa menjadi wadah, menguri uri batik sebagai warisan leluhur bangsa.

"Saat ini batik sudah mendunia dan menggema, sejak diakui oleh UNESCO sepuluh tahun silam.

Oleh karena itu, mari terus lestarikan dan menguri-uri budaya lokal kita," kata Saelany.

Saelany menginginkan di usia 10 tahun, sejak ditetapkan sebagai warisan tak benda asli Indonesia ini, Museum Batik Pekalongan harus terus melakukan inovasi-inovasi untuk pengembangan kemajuan batik Pekalongan.

"Kami sangat berharap, Museum Pekalongan yang koleksi-koleksinya ini sudah bagus bisa terus dikembangkan, terus berinovasi baik penataan ruang pamer, dalam memperbaharui koleksi batik-batiknya dengan mempertahankan nilai tradisi dan sejarah," tuturnya.

Terpisah, Kepala UPTD Museum Batik Pekalongan, Bambang Saptono menyebutkan saat ini telah ada 1.267 koleksi batik, dengan berbagai corak dan motif yang ditempatkan di 3 ruang pamer di Museum Batik Pekalongan.

"Dalam rangka, memperingati sepuluh tahun batik sejak Oktober 2009 batik diakui UNESCO, hari ini ada 100 koleksi kain batik yang kami pamerkan, baik yang pernah dipamerkan maupun belum dipamerkan."

Namun, yang dipamerkan kebanyakan memang koleksi lama kami," ucap Bambang.

Bambang menjelaskan, pada kegiatan ini yang menjadi berbeda adalah adanya koleksi-koleksi karya batik bertemakan 'Indonesia Membatik Dunia' yang didisplay di ruang pamer satu dengan harapan Batik Pekalongan akan semakin mendunia.

"Kami ingin para generasi muda khususnya, pelajar di Kota Pekalongan tidak hanya memakai batik saja, melainkan mereka bisa sering melakukan kunjungan ke Museum Batik Pekalongan untuk belajar membatik.

"Tidak hanya itu, kami juga sangat berharap di sekolah-sekolah bisa ada edukasi membatik melalui penerapan di mata pelajaran maupun ekskul di berbagai jenjang pendidikan," tambahnya. (Dro)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved