Pengasuh Ponpes Rebana Pengiring Perayaan Natal 2019 di Semarang Ingin Tanamkan Keberagaman
Ponpes Roudhotus Sholihin Demak sebelumnya tampil di satu Gereja Semarang saat perayaan Natal 2019, menanamkan keberagaman santri sejak dini.
Penulis: Moch Saifudin | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Pondok Pesantren (Ponpes) di Demak yang sebelumnya tampil di satu Gereja Semarang saat perayaan Natal 2019, menanamkan nilai keberagaman pada santri sejak dini.
Pengasuh Ponpes Roudhotus Sholihin, Abdul Qodir mengatakan, pesantrennya memiliki visi inklusif, yang berarti tidak hanya memahami sebuah perbedaan tetapi menerima sebuah keberagaman dan perbedaan.
"Salah satu implementasinya, ya dengan terlibat langsung kegiatan sosial seperti di satu Gereja Katolik Mater Dei Semarang, kemarin," jelasnya di Pondok Pesantren Desa Loireng, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Kamis (26/12/2019).
Ia bercerita, pihaknya memang sering mengajak santrinya untuk melakukan kunjungan ke tempat ibadah di berbagai agama, Nasrani, Hindu, Budha bahkan aliran kepercayaan.
Semisal di Seminari Mertoyudan Magelang, Budhinastri Mendut dan lainnya.
"Bahkan dalam jangka waktu dekat, kami akan ke Keuskupan Agung Purwokerto dan Padepokan Wulan Tumanggal di Bojong Tegal, sebuah aliran kepercayaan kejawen," terangnya yang juga terlibat dalam Komunitas Persaudaraan Lintas Agama Semarang.
Ia menjelaskan, kegiatan sosial yang ia dan santrinya dengan komunitas lintas agama sudah dilakukan sejak sekira empat tahun yang lalu.
Menurutnya, upaya tersebut tidak lain merupakan kegiatan kemanusiaan, ikut merasakan kegembiraan saat saudara se tanah air merasa bahagia.
"Indonesia ini sedemikian kaya dan beragam, namun marilah kita cari yang sama saja, srawung dan bercanda bersama," terang lulusan Al Azhar Studi Aqidah Filsafat dan CRCS UGM tersebut.
Ia menjelaskan, delapan pemain rebana di Gereja Katolik Mater Dei Semarang kemarin, Selasa (25/12/2019), memainkan rebana tidak saat iringan Misa Natal.
Namun beberapa lagu tolerasi dan selamat datang untuk Gubernur Jawa Tengah, di antaranya Nandur Rukun, Ilir-ilir, Turi Putih dan lainnya.
"Saat prosesi ibadah berlangsung, kami berada di ruang transit yang sudah disediakan panitia. Jadi kami mengiringi lagu sebelum dan sesudahnya, tak lain untuk menjaga proses peribadatan berlangsung dengan khusyuk dan hikmad," jelasnya.
Terkait upaya yang ia lakukan, lanjutnya, pasti ditentang oleh sebagian orang.
Ia mengingatkan, upaya yang ia lakukan tidak lain untuk berkomunikasi dan merawat kebinekaan.
"Secara kelembagaan, PBNU mengucapkan selamat Natal melalui websitenya, Muhammadiyah tidak melarang, dan MUI tidak ada larangan," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gereja-mater-dei-semarang-diiringi-group-rebana-ponpes-roudlotul-solihin-sayung-demak.jpg)