Opini

OPINI Marjono : Gelar Akademik Ironi Pilkada

Solo menjadi salah satu dari 21 Kab/Kota di Jateng yang menyelenggarakan pilkada serentak 2020. Ada yang menarik dari para kandidat walikota maupun wa

Bram
Marjono 

Oleh Marjono

Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng)

Solo menjadi salah satu dari 21 Kab/Kota di Jateng yang menyelenggarakan pilkada serentak 2020. Ada yang menarik dari para kandidat walikota maupun wakil walikota. Menarik karena akan diikuti oleh putra presiden Jokowi, bahkan Razali Ismail Ubit, pelamar balon wakil walikota Solo yang berasal dari Kota Banda Aceh ini siap mendampingi Gibran Rakabuming Raka.

Penulis tergelitik dengan pemberitaan media tentang Razali yang disebut-sebut kuliah di 40 kampus. Namun dari isinya penulis tak bisa mendapatkan informasi soal gelar akademiknya yang (mungkin) terbilang tak sedikit.

Satu perjalanan yang luar biasa bagi orang Indonesia, betapa tidak. Angka partisipasi pendidikan oleh anak usia sekolah di negeri ini disebut meningkat tiap tahunnya. Di sisi lain, total jumlah anak putus sekolah di 34 provinsi kita masih berada di kisaran 4,5 juta anak.

Data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), jumlah anak usia 7-12 tahun yang tidak bersekolah berada di angka 1.228.792 anak. Untuk kategori usia 13-15 tahun mencapai 936.674 anak.

Sementara usia 16-18 tahun, ada 2,420,866 anak yang tidak bersekolah. Sehingga secara keseluruhan, jumlah anak Indonesia yang tidak bersekolah mencapai 4.586.332 (Republika, 24/7/2019). Anak putus sekolah dan tidak bersekolah adalah ironi jaman kini.

Kita cukup sadar, bahwa bekal akademik cukup baik, tapi ia bukan segala-galanya. Pendidikan, gelar dan predikat akademik lain itu akan lebih baik lagi ketika dilengkapi dengan prestasi di luar ranah akademik, misalnya pendampingan masyarakat, advokasi masyarakat, pendidikan bagi warga miskin, blusukan ke daerah/desa-desa marjinal atau bantuan sosial, keuangan dan pembinaan/penyuluhan sekaligus menjadi role model usaha ekonomi produktif masyarakat atau memberikan ruang bagi kawan-kawan disabilitas kita.

Capaian akademik akan lebih berkilau ketika raihan-raihan keilmuan itu sarat dengan kajian, analisis yang berelasi dengan upaya-upaya membalik masyarakat dari murung menjadi berspirit, dari individu ke gotong royong, dari bergantung menjadi berani mengambil keputusan untuk menentukan masa depannya. Poin ini sekurangnya bisa menyokong daya pilih masyarakat terhadapnya.

Atau angka-angka akdemik tak pernah bermakna apapun kecuali ia bersenyawa dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Jika jaman revolusi industri 4.0 ini, bagaimana aparatur negara mampu memberikan layanan prima yang cepat, mudah dan murah serta informatif sehingga masyarakat merasa dimanusiakan dan dihargai, sehingga mampu menyemaikan rasa memiliki terhadap pemerintah sekaligus meyakini negara hadir tak hanya angka atau kata tapi lebih pada kemudahan dan kenyamanan bagi warganya.

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved