Liputan Khusus

Gubernur Ganjar: Jangan Matikan Industri Rokok

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta kenaikan cukai rokok dikaji secara serius. Termasuk masuknya impor tembakau dari beberapa negara.

Gubernur Ganjar: Jangan Matikan Industri Rokok
Istimewa
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat memberikan pengarahan di malam penganugerahan badan publik informatif 

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta kenaikan cukai rokok dikaji secara serius. Termasuk masuknya impor tembakau dari beberapa negara.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Beberapa industri rokok melakukan impor tembakau dari sejumlah negara antara lain China, Zimbabwe, Turki, dan Amerika.

Tembakau yang diimpor itu sudah siap pakai, tidak perlu diolah kembali.

Petani tembakau berharap, meski industri rokok impor tembakau dari luar negeri, tetap harus mengutamakan tembakau lokal.

Apabila impor tembakau sejumlah 50 ton, maka industri harus menyerap tembakau lokal sebesar 100 ton.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Parmuji ingin pemerintah mengendalikan impor tembakau. Karena hal tersebut yang paling berdampak besar terhadap petani tembakau.

"Naiknya cukai rokok memang berdampak terhadap petani. Tapi yang paling parah yakni impor tembakau.

Di awal tahun 2020 pemerintah harus segera memberlakukan regulasi impor dari Permentan 23 tahun 2019 yang berisi izin rekomendasi dan importasi tembakau," ujar Agus Parmuji.

Dalam pasal tersebut diatur penyerapan tembakau lokal lebih diutamakan, dibandingkan impor.

"Penyerapannya 2 banding 1. Dua kali ambil dari petani lokal, satu kali impor. Tapi sejauh ini impor tembakau masih sangat besar dan tidak terdeteksi. Jika regulasi itu mulai diberlakukan, baru akan terdeteksi," tambahnya.

Halaman
1234
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved