Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Belajar dari Bencana

SEJAK awal tahun 2020, hampir semua media memberitakan soal banjir yang terjadi di wilayah Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangeran dan Bekasi).

Penulis: rustam aji | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/cetak/grafis bram kusuma
RUSTAM AJI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rustam Aji

Wartawan Tribun Jateng

SEJAK awal tahun 2020, hampir semua media memberitakan soal banjir yang terjadi di wilayah Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangeran dan Bekasi). Banjir kali ini terbilang cukup parah. Ribuan rumah di wilayah tersebut terendam banjir, sementara puluhan ribu warga mengungsi. Korban jiwa dan harta pun tak bisa terelakkan.

Yang paling menyedihkan tentu saja karena para pejabat saling tuding menyalahkan soal penyebab banjir. Kondisi ini jelas sebuah ironi. Di tengah kondisi warga yang terkena bencana banjir, para pejabat pemerintah malah “bertengkar” sendiri.

Bila mau menengok ke belakang soal bencana, musibah banjir yang dialami warga Jabodetabek, bahkan daerah lain di Indonesia, bukanlah kejadian baru. Namun, peristiwa yang selalu terulang (hampir) setiap tahunnya.

Bahkan di era modern ini, Indonesia pernah mengalami bencana dahsyat tsunami di Aceh yang merenggut korban jiwa dan harta tak sedikit.

Dengan melihat kondisi geografi Indonesia, memang tidak bisa dipungkiri bila daerah di Indonesia sangat rentan terhadap bencana, baik itu banjir, tanah longsor, gempa, kebakaran, tsunami, dan lain sebagainya. Sebagai negara tropis yang memiliki dua musim, hujan dan kemarau, daerah Indonesia juga selalu menjadi langganan bencana.

Bila musim hujan tiba (seperti saat ini), maka bencana banjir, tanah longsong, gempa, tsunami selalu mengintai. Sedangkan saat kemarau, bencana berupa kebakaran hutan, gagal panen, dan kekeringan, juga tidak bisa dielakkan.

Kondisi itu bukannya tidak disadari oleh pemerintah maupun warga sendiri, pemerintah dan warga sangat sadar akan hal itu. Karena itu, kenapa kemudian dibentuk seperti badan penanggulangan bencana dari pusat hingga daerah. Keberadaan badan tersebut sudah jelas, yakni untuk melakukan penanganan-penanganan kebencanaan yang terjadi.

Karena itu, stop saling menyalahkan bila terjadi bencana. Dengan memahami kondisi kebencanaan yang ada, maka masing-masing pejabat akan lebih baik saling instrospeksi, apa yang telah dilakukan dan apa yang belum dilakukan dalam upaya menanggulangi bencana. Karena bencana bisa datang tiba-tiba dan di luar prediksi. Bahkan, negara maju seperti Jepang, Amerika, dan China, juga tidak berkutik saat menghadapi bencana.

Selain itu, memahami bencana, tentu tidak cukup hanya sekadar membangun infrastruktur yang bagus. Tetapi unsur tingkah laku manusianya juga harus diperbaiki. Sebagai orang beragama, kita tentu paham bahwa musibah (baca: bencana) bisa terjadi karena ulah kita sendiri.

Entah karena sikap kita terlalu pongah (sombong) dan sering melakukan maksiat, atau karena kita tidak mau menghargai dan merawat alam.

Barangkali hampir semua pembaca pernah nonton film Titanic. Titanic, merupakan kapal Britania yang tenggelam tanggal 15 April 1912. Kapal ini sempat diklaim oleh pembuatnya yaitu Thomas Andrews, tak akan tenggelam! Namun apa yang terjadi?

Kapal itu justru tenggelam di pelayaran pertamanya setelah menabrak karang es dan menewaskan sebagian besar penumpangnya.

Ibrah, atau pelajaran yang bisa diambil dari peritiswa itu adalah janganlah kita terlalu sombong atau membangga-banggakan diri atas apa yang telah kita lakukan.

Karena pada dasarnya sifat membangga-banggakan diri sendiri itu justru akan mengundang musibah. Manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhan-lah yang menentukan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved