Ngopi Pagi
FOKUS : Eksistensi Keraton Kian Berat
Pekan ini publik dihebohkan dengan ramainya kemunculan kerajaan baru yang disebut Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jawa Tengah.
Penulis: m nur huda | Editor: Catur waskito Edy
Oleh M Nur Huda
Wartawan Tribun Jateng
Pekan ini publik dihebohkan dengan ramainya kemunculan kerajaan baru yang disebut Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo, Jawa Tengah.
Keraton yang dipimpin seseorang bernama Toto Santoso atau yang mengkalim bergelar Sinuhun Toto Santoso Hadiningrat, memiliki kekuasaan sejagat raya. Bahkan ia juga memiliki seorang permaisuri bernama Kanjeng Ratu Dyah Gitarja, nama aslinya adalah Fanni Aminadia.
Sinuhun Toto mengaku mendirikan keraton ini berdasar ilham dari leluhur Raja Sanjaya, keturunan dari Kerajaan Majapahit. Ia menobatkan diri sebaga raja sejak 8 Desember 2018.
Selama itu, ia juga mengaku telah memiliki pengikut mencapai 400 orang. Mereka brasal dari berbagai daerah.
Dari sejumlah itu, Sinuhun Toto sudah menyusun kabinet yang berisi 13 menteri.
Rencananya, akan ada penambahan jabatan menteri bidang politik, ekonomi, militer, sosial, dan budaya. Kemudian ada jabatan gubernur hingga tingkat lurah.
Sayangnya, sebelum kabinet tersebut lengkap, ia terlebih dahulu ditangkap polisi dan kini diamankan di Mapolda Jateng. Toto dijerat pasal penipuan dan menebar kebohongan publik. Bahkan kini statusnya sudah menjadi tersangka.
Aksi Toto ini mendapat perhatian dari kalangan pimpinan keraton asli. Tak main-main, Ketua Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN) Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat turut berkomentar terkait adanya Keraton Agung Sejagat.
Menurut Sultan Sepuh XIV Kasultanan Kasepuhan Cirebon ini, keberadaan Keraton Agung Sejagat telah mencoreng nama baik keraton-keraton di Indonesia.
Bahkan, menurutnya banyak pihak yang memberi komentar tidak baik kepada keraton, terlebih di media sosial.
Dengan adanya komentar tersebut, ata Arief, sebagian kalangan milenial pun heran.
Mereka mempertanyakan ulang eksistensi keraton di era yang serba modern saat ini.
“Kaum milenial kan bertanya, hari gini masih ada keraton,” kata Arief.
Adanya pemberitaan buruk tentang KAS dinilai semakin membuat eksistensi keraton semakin berat.
Di tengah kerja keras keraton-keraton menjaga eksistensi agar tidak punah menghadapi tantangan modernisasi, kini citranya terpuruk akibat ulah sekelompok orang.
Diungkapkannya, keraton saat ini menjadi benteng terakhir pelestari budaya. Di sisi lain, saat ini masyarakat dan pemerintah memandang keraton hanya dengan sebelah mata.
“Kejadian itu, tambah berat. Mencoreng nama baik keraton,” tambah Arief.
Menongok keberadaan keraton di Nusantara saat ini, hampir mayoritas terseyok-seyok
menjaga eksistensi mereka. Jangankan menjaga kewibawaan keraton dan perangkatnya, merawat bangunan fisik keraton pun sudah tak mampu.
Adanya kasus Keraton Agung Sejagat, mestinya kita perlu kembali menengok keberadaan keraton di Nusantara. Meski sistem tata pemerintahannya sudah tak berlaku di NKRI, namun di sana terdapat nilai-nilai budaya dalam setiap jiwa penduduk republik ini.
Bagaimanapun, sebuah peradaban telah tercipta berkat budaya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tajuk-ditulis-oleh-wartawan-tribun-jateng-m-nur-huda_20180504_071828.jpg)