Pisang Plenet Pak Tri Seberang Sri Ratu Khas Rasanya sudah Tiga Generasi

Pisang Plenet di Kota Semarang seberang Pasaraya Sri Ratu sudah tiga generasi tetap disukai pelanggannya.

Pisang Plenet Pak Tri Seberang Sri Ratu Khas Rasanya sudah Tiga Generasi - cemilan-pisang-plenet-pak-tri-di-tepi-jalan-pandansari-kecamatan-semarang-kota.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
PISANG PLENET - Cemilan Pisang Plenet Pak Tri di tepi Jalan Pandansari Kecamatan Semarang Kota, yang konon sudah generasi ke tiga.
Pisang Plenet Pak Tri Seberang Sri Ratu Khas Rasanya sudah Tiga Generasi - pak-tri-penjual-pisang-plenet-di-tepi-jalan-pandansari-kecamatan-semarang-kota.jpg
tribunjateng/mahasiswa UIN Magang
Pak Tri penjual Pisang Plenet di tepi Jalan Pandansari Kecamatan Semarang Kota, yang konon sudah generasi ke tiga.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pernah dengar nama cemilan pisang plenet? Pasti penasaran dan terbayang pisang diplenet atau digepengkan ya? Baiklah ini dia cemilan Pisang Plenet di Kota Semarang tepatnya di Jalan Pandansari Kecamatan Semarang Kota, atau di seberang Pasaraya Sri Ratu.

Adalah Pisang Plenet Pak Tri yang sudah legendaris di Kota Semarang. Tri (56), penjual pisang plenet ini mengaku sudah generasi ke 3. Dia katakan, ide menjual pisang plenet dimulai dari kakeknya.

"Dulu kakek mulai jualan sejak 1952. Saya generasi ke 3, ya dulu kan kakek, bapak, terus saya," ujar Tri, Selasa, 7 Januari 2020 silam. Sementara, anaknya yang merupakan generasi ke 4 juga berjualan pisang plenet tepatnya di Semawis. Dulunya, pisang plenet dijual keliling sembari dipikul. Kini pisang plenet sudah menggunakan gerobak dan tidak lagi keliling.

Sesuai namanya, pisang ini dibuat dengan cara diplenet atau dipipihkan lalu dibakar. Aroma khas pisang yang dibakar ditambah dengan berbagai macam topping di atasnya membuat pisang ini terasa nikmat.

Pisang yang digunakan Tri dalam membuat pisang plenet adalah pisang kepok. Sedangkan untuk toppingnya, ia menyediakan selai nanas, margarin, gula, meses, dan keju yang dapat di-mix sesuai selera pembeli. Satu porsinya dihargai Rp 15 ribu.

Menurut Tri, pembelinya tidak hanya dari Semarang saja, akan tetapi juga dari luar kota. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Uniknya, berdasarkan cerita Tri, pisang plenet sering menjadi tempat nostalgia orang-orang tua yang kini merantau di kota-kota besar seperti Jakarta. Saat pulang mereka akan membeli pisang plenetnya sambil mengenang masa kecil.

"Banyak orang tua yang istilahnya kangen gitu, yang sudah ke Jakarta, merantau kemana gitu. . Pulang pasti ke sini," tutur Tri. Hal ini juga tampak dari tulisan yang terpasang di gerobaknya, yaitu 'Ngangeni masa kecil sampek tuwek'.

Seha (50), salah satu pelanggan Pisang Plenet Pak Tri mengaku sudah berlangganan sejak lama. Ia menceritakan, dirinya sudah membeli Pisang Plenet Pak Tri sedari kecil. Sejak masih berjualan tepat di samping Pasaraya Sri Ratu hingga pindah di seberangnya, bahkan toppingnya pun masih tradisional.

"Iya saya suka beli pisang plenet ini sejak kecil. Dulu masih di samping Sri Ratu. Dari masih yang toppingnya bukan yang macem-macem gitu, masih pakai selai asli," kata Seha. Soal rasa, Seha mengatakan pisang plenet tidak berubah kenikmatannya. "Rasanya ya tetep kaya gitu, cuma toppingnya aja yang beda. Kalau dulu kan masih tradisional, sekarang kan ada keju dan sebagainya. Ya masih enak aja," pungkasnya. (tribunjateng/mahasiswa UIN magang/wid)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved