Video RSUD Kraton Pekalongan Kebanjiran
"Ketinggian air di lorong mawar sekira 50 sentimeter. Untuk di ruangan inap ketinggiannya mencapai 20 sentimeter," kata Rezaki, pegawai RSUD Kraton.
Penulis: Indra Dwi Purnomo | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Video RSUD Kraton Pekalongan kebanjiran
12 pasien RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan terpaksa dipindahkan ke tempat yang lebih aman, Senin (20/1/2020).
Hal ini dilakukan karena ruangan inap yang ditempati kemasukan air (kebanjiran).
Dalam pantauan Tribunjateng.com, sejumlah tempat yang banjir yaitu di kawasan parkir RSUD Kraton, ruang mawar, dan jalan menuju ruang jenazah.
Ketinggian air dari 20 hingga 60 sentimeter.
Pegawai Bidang Administrasi RSUD Kraton, Rezaki mengatakan, akibat banjir di Kabupaten Pekalongan, ada 12 pasien yang dievakuasi ke tempat yang lebih aman.
Alat-alat kesehatan dan dokumen penting rumah sakit juga sudah diamankan.
"Banjir ini akibat hujan lebat, disertai angin dan petir."
"Ketinggian air di lorong mawar sekira 50 sentimeter. Untuk di ruangan inap ketinggiannya mencapai 20 sentimeter," kata Rezaki kepada Tribunjateng.com, Senin (20/1/2020).
Menurutnya, langkah yang diambil rumah sakit yaitu menghidupkan pompa penyedot air untuk menguras air banjir.
"Pelayanan saat ini di RSUD Kraton masih terganggu akibat banjir ini," jelasnya.
Pihaknya berharap hujan segera reda agar pelayanan kembali normal lagi.
Sementara itu, Aprilia (23) keluarga pasien mengatakan, adanya banjir ini mengganggu pasien, termasuk keluarga yang sedang menunggu pasien tersebut.
"Banjir seperti saat ini sangat ganggu, mau ke toilet juga susah sekali."
"Kalau ketinggian air banjir bermacam-macam. Kalau di ruangan inap satu sekira 30 sentimeter."
"Kalau di luar ruangan sekira 50 sentimeter," katanya.
Aprilia menceritakan, ia sedang menunggui anaknya yang sakit DBD dan sudah dirawat di RSUD Kraton sudah empat hari.
"Yang saya tahu, RSUD Kraton baru kali ini pertama kalinya banjir."
"Semoga air lekas surut dan hujan segera reda. Agar, tidak mengganggu pasien," tambahnya. (Indra Dwi Purnomo)