Jarilima Semarang : Warga Perlu Digerakkan Kurangi Sampah, Memilah dan Mengolah Sejak Hulu
Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Semarang, Ellen Nugroho turut mengapresiasi prestasi Kota Semarang tersebut.
Penulis: Adelia Prihastuti | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kota Semarang berhasil menyabet penghargaan sebagai kota terbersih se-ASEAN dalam ajang ASEAN Tourism Forum (ATF) 2020, Kamis (16/1/20) di Brunei Darussalam.
Prestasi ini disampaikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi lewat unggahan video di akun Instagram pribadinya @hendrarprihadi, Minggu (19/01/20)
"Dibangun tanpa dijaga tak akan ada hasilnya, ini semua hasil dari upaya seluruh sedulur-sedulur di Kota Semarang," ujar Hendrar Prihadi dalam caption video akun Instagramnya.
• Janji Polisi 14 Hari Ungkap Hasil Autopsi Lina Mantan Istri Sule, Teddy Dibuat Kecewa Karena Ini
• Pengakuan Istri Deddy Dores yang Orbitkan Nike Ardilla, Anaknya Banting Setir Jadi Driver Ojol
• Ini Reaksi Mantan Suami saat Tahu Pernikahan 12 Hari di Malang Viral
• Viral di Medsos Cerita Nay Naima Wanita Bertubuh Gemuk Alami Tekanan Pernikahan Bertahan 12 Hari
Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Semarang, Ellen Nugroho turut mengapresiasi prestasi Kota Semarang tersebut.
Namun ia mengatakan penghargaan yang diperoleh bukan berarti membereskan permasalahan manajemen sampah di Kota Semarang.
“Produksi sampah kita tahun lalu angkanya masih sekitar 1200 ton sehari. Itu yang masuk TPA Jatibarang saja, belum yang langsung dibuang ke selokan, sungai, atau tak terkelola,” ujar Ellen saat dihubungi Tribun Jateng, Jumat (24/01).
Masih terdapat tugas besar untuk menggerakan masyarakat Semarang dalam mengelola sampah.
Menurut Ellen, masyarakat Semarang masih belum mampu memilah dan mengolah sampah dengan baik sehingga sampah yang masuk ke TPA masih berupa sampah campur yang akan sulit didaur ulang.
“Kita tak bisa puas hanya kalau jalanan kita tampak bersih. PR kita terutama bagaimana mengerakkan warga Semarang untuk mengurangi timbunan sampah, memilah dan mengolahnya sejak hulu.
Sampai sekarang sampah yang masuk ke TPA masih berupa sampah campur, dan itu sulit didaur ulang. Untuk mengurangi timbunan sampah pemkot masih mengandalkan insinerator.
Malah sekarang mau dibangun insinerator kedua, padahal dampak buruk insinerator itu banyak termasuk timbulan bahan beracun berbahaya,” imbuhnya.
Kebijakan Pemkot Semarang terkait pelarangan penggunaan plastik juga ikut disoroti karena implementasinya masih membutuhkan langkah yang nyata.
“Soal penanganan sampah plastik, Walikota sudah meneken Perwal 27/20119 tentang penggunaan plastik, semangatnya sudah baik, tapi implementasinya masih butuh langkah nyata.
Kita perlu meniru kota-kota yang sudah tegas melarang penggunaan kantung plastik sekali pakai dan sedotan plastik. Selain itu, masyarakat perlu edukasi terus-menerus tentang hidup minim sampah karena yang mesti diubah terutama adalah paradigma dan budaya kolektif,” pungkasnya. (adl)
• BREAKING NEWS : Sahabat Egy Maulana Vikri Klaim Selangkah Lagi Gabung PSIS Semarang
• Syarat eks Gelandang Persebaya Fandi Eko Utomo Gabung PSIS Semarang, Ini Kata Liluk
• Tak Pernah Hadir di Istana Negara Saat Diundang Presiden Jokowi, Armand Maulana Ungkap Alasannya
• Kombes Polisi Trunoyudo Isyaratkan Panggil Ningsih Tinampi Gara-gara Ngaku Bisa Panggil Nabi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sapi-sapi-pemakan-sampah-di-tpa-jatibarang-kedung_20180820_212903.jpg)