Luruskan Sejarah Geger Pacinan, Forum Heritage Salatiga Bakal Gelar Pentas Seni Keliling

Pelurusan sejarah mengenai peristiwa Geger Pacinan (1740-1743), Forum Heritage Kota Salatiga (FHKS) UKSW bakal menggelar pementasan

Luruskan Sejarah Geger Pacinan, Forum Heritage Salatiga Bakal Gelar Pentas Seni Keliling
TRIBUN JATENG/M NAFIUL HARIS
Sejarawan Tionghoa Didi Kwartanada (kiri) dan penulis buku Geger Pacinan Daradjati (tengah) menjadi narasumber dalam diskusi¬†Forum Heritage Kota Salatiga (FHKS) di Ruang Tan Ik Hay FBS UKSW Salatiga, Jumat (24/1/2020).¬†T 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA - Guna menambah wawasan dan pelurusan sejarah yang terlupakan mengenai peristiwa Geger Pacinan (1740-1743), Forum Heritage Kota Salatiga (FHKS) UKSW bakal menggelar pementasan seni keliling dari Banyuwangi sampai Jakarta.

Rute tersebut dipilih sesuai data sejarah peristiwa Geger Pacinan yang dimulai dengan pembunuhan sekitar 10 ribu orang Tionghoa di Batavia (Jakarta) hingga memicu perlawanan kepada VOC.

Rencana tersebut disampaikan Direktur Pengembangan dan Mobilisasi Sumber Daya UKSW Salatiga Esthi Susanti Hudiono di sela-sela diskusi forum ke 2 FHKS sekaligus pencanangan kampanye 35 Windu Geger Pacinan di Ruang Tan Ik Hay Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW Salatiga, Jumat (24/1/2020).

Menurut Esthi, peristiwa Geger Pacinan memuat nilai sejarah yang sangat penting.

Khususnya terkait hubungan persahabatan antara orang Jawa dan Tionghoa dalam melawan VOC.

"Ribuan orang Tionghoa yang mati itu akhirnya membuat Kapiten Sepanjang alias Souw Phan Ciang, alias Khe Panjang, mengajak pangeran Kerajaan Mataram Islam bernama Pangeran Garendi kemudian disebut Sunan Kuning bergelar Amangkurat V untuk melawan kolonial Belanda," terangnya kepada Tribunjateng.com.

Esthi menerangkan, pecahnya peristiwa Geger Pecinan dinilai merupakan bentuk perlawanan orang Jawa dan Tionghoa yang dampaknya lebih besar ketimbang Perang Diponegoro.

Namun, fakta sejarah itu tidak banyak diketahui publik.

Ia menambahkan, FHKS UKSW memiliki misi selain melakukan pengkajian dan pendidikan, juga kampanye pemahaman sejarah kebangsaan Indonesia melalui beragam cara satu.

Di antaranya pementasan kesenian wayang Cina Jawa (Wacinwa).

Halaman
123
Penulis: M Nafiul Haris
Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved