Laba BSM 2019 Naik 111%, Bank Syariah Optimistis Kinerja Terus Membaik Tahun Ini
Perbankan syariah pada tahun lalu masih dapat meraih pertumbuhan intermediasi double digit di tengah lesunya pertumbuhan secara industri.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Perbankan syariah pada tahun lalu masih dapat meraih pertumbuhan intermediasi double digit di tengah lesunya pertumbuhan secara industri.
Sepanjang 2019 lalu, penyaluran kredit perbankan tumbuh 6,08 persen, jauh merosot dari tahun sebelumnya 2018 sebesar 11,7 persen.
Per November 2019, bank-bank syariah Tanah Air berhasil mencatat pertumbuhan pembiayaan 10,21 persen. Melesat jauh dari raihan serupa tahun sebelumnya sebesar 4,19 persen.
Hal itu seperti dicatatkan PT Bank Syariah Mandiri (BSM). Dari laporan bulanan per Desember 2019, perseroan itu berhasil menyalurkan pembiayaan Rp 74,89 triliun, tumbuh 10,95 persen year on year (yoy).
“Pertumbuhan pembiayaan kami tahun lalu mencapai 11,5 persen yoy yang ditopang segmen pembiayaan di sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur,” kata Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan BSM, Putu Rahwidhiyasa, kepada Kontan, Senin (27/1).
Mumpuninya kinerja intermediasi BSM juga berhasil mengerek naik laba bersih yang diterima. Tahun lalu, BSM berhasil meraih laba bersih Rp 1,27 triliun dengan pertumbuhan mencapai 111 persen yoy.
Tahun ini, entitas anak PT Bank Mandiri Tbk itupun berharap segmen-segmen kredit tersebut masih akan jadi penopang pembiayaan yang ditargetkan mampu mencapai kisaran 10-11 persen.
Unit usaha syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk juga mencatat kinerja yang baik. Tahun lalu, Direktur Bisnis Syariah CIMB Niaga, Pandji Djajanegara menuturkan, pertumbuhan pembiayaan UUS CIMB Niaga mencapai 20 persen.
Segmen konsumer
Per November 2019, UUS CIMB Niaga berhasil menyalurkan pembiayaan Rp 31,66 triliun, tumbuh 33,44 persen yoy. Bedanya, Pandji menyatakan, penopang utamanya berasal dari segmen konsumer, khususnya pembiayaan rumah.
“Kami belum bisa sebutkan angka pasti, tetapi financing dan DPK kami tumbuh di kisaran 20 persen yoy pada tahun lalu. Penopang pertumbuhan utamanya dari KPR syariah,” jelasnya.
Pada tahun ini, Pandji menyatakan, pihaknya memasang target pembiayaan serupa, dan pembiayaan perumahan bakal tetap menjadi andalan. UUS CIMB Niaga juga bakal menjaga rasio pembiayaan macet agar tak melebihi 1 persen.
BNI Syariah pun mendapat hasil serupa. Per November 2019 lalu, BNI Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan 16,35 persen yoy menjadi Rp 32,4 triliun.
Direktur Bisnis SME & Komersial BNI Syariah, Dhias Widhiyati mengungkapkan, dari kinerja tersebut perseroan juga berhasil menghasilkan laba bersih mencapai Rp 568,75 miliar dengan pertumbuhan hingga 50 persen yoy.
“Tahun ini kami menargetkan pertumbuhan bisnis secara moderat di kisaran 14-17 persen, dengan pertumbuhan laba di atas 20 persen,” terangnya.
Dengan target pertumbuhan secara organik itu, BNI Syariah juga membidik untuk naik kelas ke bank umum kegiatan usaha (BUKU) 3 tahun ini.
Per September 2019 lalu, entitas anak PT Bank Negara Indonesia Tbk itu masih berada di BUKU 2 dengan modal inti sebesar Rp 4,59 triliun. (Kontan/Anggar Septiadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mandiri-syariah-pelayanan_20150713_145956.jpg)