Berita Semarang

Pemkot Semarang Ingin GOW Aktif Kurangi Angka Kemiskinan

Wali kota Semarang Hendrar Prihadi mengharapkan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Kota Semarang untuk turut aktif dalam mengurangi angka kemiskinan.

Pemkot Semarang Ingin GOW Aktif Kurangi Angka Kemiskinan
ISTIMEWA
Serah Terima Ketua dan Pengurus GOW kota semarang periode 2019-2024 di balaikota 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Wali kota Semarang, Hendrar Prihadi mengharapkan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) di Kota Semarang untuk turut aktif dalam mengurangi angka kemiskinan.

Hal tersebut disampaikan Hendi, sapaan akrab Wali kota saat menghadiri pelantikan Ketua dan Pengurus Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Semarang periode 2019-2024 di Gedung Balaikota belum lama ini.

“Karena ini gabungan organisasi, konsolidasikan sehingga bisa melakukan tendangan yang hebat dengan kegiatan kemasyarakatan, salah satunya kemiskinan,” ungkap Hendi.

Pilwakot Semarang 2020, Golkar dan Nasdem Sepakat Dengan PDIP

Ikuti Kebijakan Pemkot Semarang, Toko Buku Gramedia Pandanaran Tak Sediakan Kantong Plastik

Terungkap Sosok Pimpinan Tertinggi Sunda Empire, Ternyata Seorang Perempuan, Ini Penampilannya

Video Banjir Bandang Ijen Bondowoso Viral, Ya Allah Ya Allah Ya Allah Semoga Rumahku Selamat

Menurutnya, saat ini angka kemiskinan di Kota Semarang sudah turun sebesar 3,98%, bahkan merupakan angka kemiskinan terendah di Jawa Tengah, namun Hendi menyatakan bila itu saja belum cukup.

“Dengan penduduk Kota Semarang 1.6 juta, ini masih sangat tinggi, ekuivalen 64 ribu warga Kota Semarang yang sehari-hari dia untuk makan susah atau tinggal di tempat yang tidak layak,” tutur Hendi.

Maka fokus aktifitas yang diharapkan Wali kota yakni berusaha membuat warga Semarang lebih mandiri.

“Sentuhannya cukup dua, warga yang usianya cukup produktif bagaimana GOW menginisiasi dengan aktivitas kemandirian, kita punya BLK adakan kerja sama, bisa juga disambungkan dengan program PKH,” ujar Ketua DPC PDIP Semarang.

Aktivitas lain dapat dilakukan dengan menggandeng organisasi lain agar keluarga tidak mampu dapat menjadi pelaku UMKM, sehingga mengangkat derajat hidup keluarga tidak mampu tersebut.

“Tapi kalau usianya masuk kategori tidak produktif maka penanganannya lebih pada charity atau bakti sosial,” tukas Hendi.

Menurutnya Ibu-Ibu memiliki kemampuan untuk mengumpulkan donasi charity dan dibagikan kepada keluarga tidak mampu.

Halaman
12
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved