Ngopi Pagi
FOKUS : Pers to Friendly
NYARIS di tiap tahun, begitu memasuki Desember, Khansa Zahra Najwalni yang kini berusia 10 tahun tak pernah abai menyaksikan kalender
Penulis: deni setiawan | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Deni Setiawan
Wartawan tribun Jateng
NYARIS di tiap tahun, begitu memasuki Desember, Khansa Zahra Najwalni yang kini berusia 10 tahun tak pernah abai menyaksikan kalender yang terpasang di dinding kamarnya.
Hampir di tiap pagi selepas bangun tidur, dia akan menanyakan kepada orangtuanya."Bu, sekarang tanggal berapa?" tanya anak itu. Sang Ibu pun menjawab sembari memperlihatkan kalender. "Sekarang tanggal 2 Desember," jawab sang Ibu kepada anaknya.
Tak cukup di situ, seusai itu dia akan melanjutkan beberapa angan-angannya, seperti hendak mengundang siapa saja nanti ketika berulang tahun, ingin dirayakan seperti apa, hingga kado yang diinginkan. Itu akan terus dilakukan hingga hari 1 hari jelang ulang tahunnya.
Ya, anak itu HUT pada 9 Desember. Tanggal yang selalu dinantikan di tiap tahun. Meskipun di hari itu dikemas secara sederhana, kebahagiaan senantiasa terpancar di wajahnya.
Terlebih ketika banyak kawan yang datang meski sekadar mengucapkan selamat HUT dan kado yang diharapkan telah diterimanya. Suatu kondisi yang notabene dialami rata-rata anak seusianya atau di bawahnya.
Ibarat seorang anak menantikan hari kelahirannya, itu pula yang tentu dialami para insan pers Tanah Air. Dimana 9 Februari adalah momentum bersejarah, Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia atau kini lebih dikenal dengan Hari Pers Nasional (HPN).
Hari yang dinanti untuk kembali melihat sejarah dan kondisi saat ini untuk ke depannya. Yang sama-sama dirayakan dan dinantikan momentumnya melalui berbagai cara oleh para insan pers.
Jika merunut pada sejarah, HPN hadir berdasarkan pada Kepres RI Nomor 5 Tahun 1985. Dimana kala itu Presiden RI Soeharto menyatakan pers Indonesia berperan penting dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Sebelum itu pula, HPN juga telah menjadi salah satu butir keputusan Kongres ke 28 PWI Tahun 1978 di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat. Lalu dimantapkan oleh Dewan Pers dalam sebuah persidangan pada 19 Februari 1981 di Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Hasil sidang itu kemudian disampaikan kepada pemerintah, yang akhirnya muncul HUT Pers tersebut. Meski tak dimungkiri, termasuk hingga saat ini, tak sedikit peristiwa terkesan pers terbungkam oleh kepentingan tertentu.
Sisi positifnya, itulah arti kehadiran pers. Yang secara tidak langsung menjadi bukti nyata penting, pengaruh, dan pers tak pernah lepas dalam kehidupan keseharian. Baik melalui media cetak, elekronik, maupun online.
Apalagi di era seperti saat ini, jumlah penduduk Indonesia masuk di deretan terbesar keempat di dunia serta beribu pulau, bukti nyata lain bila pers sangat penting kehadirannya terkait penyebaran informasi, baik bersifat kedaerahan, nasional, maupun internasional.
Lalu ketika dikaitkan dengan gambaran untaian pita membentuk huruf HPN, sesungguhnya ada sinergi kuat baik antar pers, antara pers dengan masyarakat serta pemerintah. Membentuk ekosistem kuat, bersama- sama berbenah demi terwujudnya nilai-nilai Pancasila.
Seperti halnya yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam puncak peringatan HPN 2020 di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, 8 Februari 2020. Ekosistem dan industri pers harus berjalan sehat dan terlindungi agar masyarakat juga dapat terus menerima kualitas informasi yang baik.
"Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mendapatkan informasi sehat dan baik. Informasi yang baik memerlukan jurnalisme baik dan ekosistem baik pula. Ekosistem media harus dilindungi dan diproteksi sehingga masyarakat mendapatkan konten berita yang baik. Untuk itu diperlukan industri pers sehat," kata Presiden.
Ketika sedikit menelaah pidato Presiden Jokowi, tak dimungkiri bila pemerintah tak bisa abai dan selalu memerhatikan pers. Termasuk juga masyarakat pada umumnya. Melalui karya-karya jurnalisme tersebut secara tidak langsung akan membentuk pola pikir siapapun yang membacanya.
Jika dikaitkan dengan kebebasan, bukan lantas pers bertindak seenaknya. Karena itu hadir kode etik jurnalistik, yang mana tujuannya tentu agar tidak menambah kekacauan, memperbanyak ujaran kebencian, ataupun memperluas penyebaran hoaks.
Sepakat dengan cita-cita HPN di tahun ini, pers senantiasa menjadi garda terdepan dalam mencerahkan pola pikir masyarakat, meluruskan informasi, termasuk berpartisipasi aktif dalam meredakan berbagai kepanikan. Ambillah contoh soal virus corona yang akhir-akhir sedang ramai di publik. Lalu agenda terdekat adalah Pilkada Serentak.
Pers diharapkan bisa menjadi friendly. Melalui gerbang HPN tahun ini, bersama-sama berjuang demi persatuan dan kesatuan, menyatukan pemikiran untuk kemajuan pers Indonesia, yang juga berlandaskan pada Pancasila. Inilah momentum kebangkitan senyata-nyata, seperti sejarah lahirnya pers. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/deni-setiawan.jpg)