Berita Semarang

Sinergi Kemensos dan Pemkot Turunkan Angka Kemiskinan Kota Semarang

Sinergi dan kerja bersama Pemerintah Pusat melalui Kemensos RI dengan Pemkot Semarang dinilai Wali Kota Hendrar Prihadi sebagai kunci keberhasilan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sinergi dan kerja bersama Pemerintah Pusat melalui Kemensos RI dengan Pemkot Semarang dinilai Wali Kota Hendrar Prihadi sebagai kunci keberhasilan di dalam menurunkan angka kemiskinan di ibu kota Jawa Tengah.

Hal itu diungkapkan Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang saat mendampingi Menteri Sosial Republik Indonesia Juliari Batubara dalam kunjungan kerjanya di Kota Semarang, Jumat (14/2).

Bertempat di E Warung Kube Mandiri Jaya, Pusponjolo Selatan, Kecamatan Semarang Barat, Juliari menyalurkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kepada 41.328 Keluarga di Kota Semarang.

Tokoh-Tokoh Negara Hadiri Penganugerahan Doktor HC Puan Maharani di Undip Semarang

Ternyata Ini Pekerjaan Ningsih Tinampi Sebelum Jadi Dukun Ahli Pengobatan Alternatif

Ternyata Siswi SMP Purworejo Korban Bullying Tergolong Anak Berkebutuhan Khusus, Ganjar Sedang Bujuk

Ini Ambisi dan Target Flavio Beck Junior Bersama PSIS Semarang di Liga 1 2020

Hendi menyebutkan bahwa meski angka kemiskinan di Kota Semarang semakin menurun dari 4,15% menjadi 3,98% namun jumlahnya masih sekitar 65.000.

Untuk itulah bantuan sosial Sembako yang semula sebesar Rp. 110.000 kini ditingkatkan menjadi Rp. 150.000 atau jumlahnya sebesar 74,4 milyar dalam 1 tahun.

“Ini merupakan PR bersama. Untuk itu, kami berterima kasih karena Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial memberikan bantuan kepada 41.328 keluarga dalam bentuk BPNT, KUBE, E-Warong yang harapannya dapat semakin mengurangi angka kemiskinan,” ujar Hendi.

"Konsepnya BPNT diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) secara langsung. Para Keluarga Penerima Manfaat dapat menggunakan KKS untuk membeli sejumlah bahan pangan, seperti beras, minyak, sayur, telur, dan ayam di E-warong atau elektronik warung gotong royong," terang Hendi.

Menurutnya yang dimaksud miskin adalah orang yang tidak memiliki penghasilan sehari-hari dan tidak memiliki pekerjaan yang tetap.

Untuk itu, pihaknya mengupayakan warga usia produktif dan masuk ke dalam kategori pra sejahtera didorong untuk mandiri melalui kegiatan kewirausahaan.

Sedangkan masyarakat Lansia didorong untuk melakukan kegiatan charity seperti rehab rumah, PKH, baksos dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: galih permadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved