Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tragedi Susur Sungai

Kisah Siswi SMPN 1 Turi yang Selamat Setelah Tersangkut Batu, Sempat Bantu 3 Teman

Seorang siswa SMPN 1 Turi Sleman yang selamat dari tragedi susur sungai Sempor, Tita Farza Pradita menceritakan detik-detik saat dirinya hanyut terser

Editor: m nur huda
twitter @merapi_news
Siswa-siswi SMPN 1 Turi Sleman yang dievakuasi ke klinik dan puskesmas terdekat, Jumat (21/2/2020) 

TRIBUNJATENG.COM, SLEMAN - Seorang siswa SMPN 1 Turi Sleman yang selamat dari tragedi susur sungai Sempor, Tita Farza Pradita menceritakan detik-detik saat dirinya hanyut terseret arus sungai Sempor.

Akibat peristiwa tersebut, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, 9 orang siswa dinyatakan meninggal dunia, dua orang siswa masih dalam pencarian.

Tita, salah satu siswa SMPN 1 Turi sempat hanyut saat kegiatan susur Sungai Sempor menceritakan kronologi dirinya yang sempat hanyut terbawa arus sungai.

Hal tersebut diungkapkan Tita dalam sebuah tayangan yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Sabtu (22/2/2020).

Sebelumnya, Sebanyak 249 siswa yang mengikuti kegiatan pramuka dengan agenda susur hanyut di Sungai Sempor, Desa Donokerto, kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Jumat (21/2/2020) sore.

 Timnas Indonesia Kalah 1-4 dari Persita, Shin Tae-yong Kecewa dan Salahkan Pemain

Tinggalkan Siswa saat Susur Sungai Sempor, Pembina Pramuka SMPN 1 Turi Jadi Tersangka

Pagi Ini, Pencarian Korban Susur Sungai SMPN 1 Turi Dilanjutkan, Tim Akan Menyelam di 5 Palung

Hasil Liga Italia Tadi Malam: Diwarnai Gol Anulir dari VAR, Fiorentina vs AC Milan Berakhir Imbang

Tita mengatakan, saat pertama jalan dari garis start, banjir belum menerjang Sungai Sempor.

Namun, saat dirinya dan teman-temannya sudah berjalan sekira satu jam datang arus sungai yang deras.

Tita menyebut, saat kegiatan susur sungai Sempor tersebut, ia dan teman-temannya berjalan di tengah sungai.

"Di awal nggak banjir, tapi pas udah sampai tengah-tengah banjirnya, udah (jalan) sekitar satu jam lebih, jalannya di tengah sungai," terang Tita.

Tita mengatakan, saat kejadian ia sempat berusaha menolong tiga temannya meski akhirnya terlepas akibat diterjang derasnya arus sungai.

"Saya itu cuma berdua sama teman saya namanya Via, Via tuh bilang 'aku udah nggak kuat', terus tak suruh pegangan di pundak."

"Terus habis itu ada adik kelas bilang 'mba-mba itu tolongin sudah hanyut dari atas', yaudah tak tolong, terus adik kelasnya itu ada dua."

"Jadi yang tangan kanan megangin yang cewek, yang kiri megangin yang cowok, terus Via nya tak taruh di pundak," papar Tita.

Tita mengungkapkan, ia dan tiga teman lainnya sempat hanyut hingga 10 meter.

"Bertiga itu kan sama saya jadinya berempat itu tenggelam semua."

"Terus aku tersangkut di batu, tapi yang tak tolong itu nggak tahu, dah hanyut," paparnya.

Tita selamat setelah ditolong warga yang berada di sekitar sungai.

"Aku nangis minta tolong, terus ada warga yang nolongin pakai tali," ungkapnya.

Tita juga menambahkan, tiga teman yang ia selamatkan dan sempat hanyut dalam keadaan selamat.

Megutip dari Kompas.com, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan menjelaskan kronologi kejadian hanyutnya 249 siswa SMPN 1 Turi.

Makwan mengatakan, kejadian tersebut berawal saat sejumlah siswa turun ke sungai.

Saat itu, hujan belum turun dan arus sungai juga masih normal.

"Namun ternyata di hulu sungai hujan," kata Makwan.

Adanya air deras dari hulu sekira pukul 15.00 WIB, membuat ratusan siswa SMPN 1 Turi terseret arus sungai yang deras.

Sementara itu, Kepala Dusun Dukuh, Tartono (54) mengatakan, di lokasi kejadian memang sungai dangkal dan tidak turun hujan.

Namun, para pembina pramuka tidak mengetahui jika di hulu sedang turun hujan.

"Kalau nggak banjir hanya dangkal, tapi kalau banjir ya bisa satu meter sampai satu setengah meter," kata Tartono.

Pembina ditetapkan tersangka

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah memeriksa 13 saksi atas tragedi susur sungai Sempor oleh siswa SMPN 1 Turi Sleman, satu di antaranya telah ditetapkan tersangka.

Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mengatakan dari 13 orang itu tujuh di antaranya adalah pembina Pramuka, sisanya adalah dari Kwarcab Kabupaten dan warga.

Berdasarkan pemeriksaan, Yuliyanto menerangkan bahwa dari tujuh orang pembina tersebut, satu orang tinggal di sekolah untuk menjaga barang-barang para siswa. Enam ikut ke sungai.

"Enam orang itu ikut mengantar anak-anak ke sungai. Dari enam orang itu, empat orang ikut turun ke sungai. Ada seorang yang meninggalkan lokasi karena ada keperluan. Sedangkan seorang lagi, menunggu di titik finish-nya yang berjarak sekitar 1 kilometer dari start," terangnya sebagaimana dilansir dari Tribunjogja.com.

Yuliyanto melanjutkan, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIY telah menaikkan status penyelidikan menjadi penyidikan.

"Kita juga sudah menaikkan status salah satu saksi itu dengan inisial IYA menjadi tersangka.

Saat ini, yang bersangkutan  sedang dilakukan pemeriksaan, dilakukan BAP sebagai tersangka," terangnya.

Adapun IYA (36) kelahiran Sleman seorang pembina pramuka sekaligus sebagai guru olahraga dari SMP N 1 Turi.

Yuliyanto menekankan bahwa tersangka IYA-lah yang meninggalkan para siswa di sungai.

Pasal yang didikenakan adalah 359 KUHP kelalaian yang mengakibatkan orang meninggal dunia dan pasal 360 KUHP karena kelalaiannya mengakibatkan orang lain luka-luka.

Ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Terkait apakah ada kemungkinan bertambahnya tersangka, Yuli menuturkan bahwa itu tergantung hasil pemeriksaan saksi-saksi.

Ia pun juga menjelaskan bahwa polisi belum meminta keterangan dari siswa karena mereka masih mengalami trauma atas kejadian kemarin.

"Kita akan proaktif mendatangi mereka untuk melakukan pemeriksaan. Dari Polda DIY juga menyiapkan petugas untuk trauma healing.

Besok ketika sudah masuk sekolah ada terapi secara psikologis kepada anak-anak itu," paparnya.

Terkait pemeriksaan kepada kwarcab kabupaten, itu terkait bagaimana aturan-aturan yang ada di kepramukaan termasuk management risiko kegiatan pramuka. 

Kepala Sekolah tidak diberi laporan

Dilansir dari Kompas.com, Kepala SMP Negeri 1 Turi, Tutik Nurdiyana, mengaku tidak mengetahui program kegiatan susur sungai. Namun demikian, kegiatan tersebut merupakan program lama.

"Kami atas nama sekolah mohon maaf atas terjadinya musibah ini yang benar-benar tidak kami prediksi dari awal, tidak menduga," ujar Tutik dalam konferensi pers di sekolahnya, Sabtu (22/2/2020).

Kepala SMP Negeri 1 Turi, Sleman Tutik Nurdiyana (memengang mik) saat memberikan keterangan kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020).
Kepala SMP Negeri 1 Turi, Sleman Tutik Nurdiyana (memengang mik) saat memberikan keterangan kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020). (KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMA)

Tutik menyampaikan, SMP Negeri 1 Turi mempunyai ekstrakurikuler Pramuka.

Kegiatan Pramuka digelar setiap Jumat dari pukul 13.30 WIB sampai 15.30 WIB.

Kegiatan susur sungai merupakan program rutin pada ekstrakurikuler Pramuka di SMP Negeri 1 Turi.

"Bagi kami, mungkin anak-anak penduduk Turi, mereka familiar dengan lingkungan Turi, jadi bukan hal yang khusus," katanya.

Menurut dia, ada tujuh orang yang mendampingi saat kegiatan susur sungai.

Mereka merupakan guru-guru di SMP Negeri 1 Turi.

Kegiatan susur sungai ini, lanjutnya, murni kegiatan SMP Negeri 1 Turi.

Kegiatan Pramuka susur sungai merupakan program lama.

"Saya di sini kepala sekolah baru, baru 1,5 bulan, program-program ini melanjutkan yang lama. Semester kemarin sudah ada program seperti itu," katanya.

Tutik mengaku tidak mengetahui adanya kegiatan susur sungai pada Jumat (21/2/2020). Sebab, para pendamping tidak memberikan laporan.

"Jujur, saya tidak mengetahui adanya program susur sungai di hari kemarin itu, mereka tidak matur (laporan). Karena mungkin menganggapnya anak-anak biasa, anak Turi susur sungai itu hal biasa," katanya.

Sembilan pelajar tewas

Sebelumnya, Tim SAR gabungan berhasil menemukan dua korban siswa yang hanyut di Sungai Sempor saat mengikuti kegiatan Pramuka susur sungai.

Kemudian, ada satu korban lagi yang masih belum ditemukan.

"Pukul 10.15 WIB ditemukan satu korban," ujar Koordinator Humas Basarnas Yogyakarta, Pipit Eriyanto, Sabtu (22/2/2020).

Korban yang ditemukan itu berjenis kelamin perempuan.

Tim SAR menemukan korban di daerah DAM Lengkong.

Tim SAR gabungan kembali menemukan satu lagi korban pada pukul 10.35 WIB. Korban yang ditemukan berjenis kelamin perempuan.

"Pukul 10.35 WIB ditemukan satu korban di DAM Polowidi. Jadi total yang sudah ditemukan sembilan orang, dan satu masih dalam pencarian," ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menuturkan, korban saat ini langsung dibawa ke Puskesmas Turi.

"Menuju Puskesmas Turi untuk dilakukan identifikasi," bebernya.

Tim SAR gabungan sampai saat ini masih terus melakukan proses pencarian terhadap satu korban lagi. Jarak pencarian dilakukan dengan menyusur sungai.

"Kira-kira tim pencarian jaraknya sekitar 6-7 km dari titik awal kejadian," ungkapnya.

(Tribunnews.com/Nanda Lusiana Saputri) (Kompas.com/Wijaya Kusuma)

Sumber: Tribunnews.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved