Ngopi Pagi

FOKUS : Menutupi Kasus Corona

DALAM peperangan ada pihak menutupi jumlah korban meninggal atau kerugian itu biasa. Pihak lawan juga demikian, misalnya ada pesawat tempur jatuh

FOKUS : Menutupi Kasus Corona
tribunjateng/bram
Iswidodo wartawan Tribunjateng.com 

Oleh Iswidodo

Wartawan Tribun Jateng

DALAM peperangan ada pihak menutupi jumlah korban meninggal atau kerugian itu biasa. Pihak lawan juga demikian, misalnya ada pesawat tempur jatuh kena rudal, bisa diklaim disamarkan pesawat itu jatuh karena cuaca buruk. Saling klaim menutupi kekalahan, itu dimaklumi dalam peperangan.

Kelemahan kekurangan dan jatuhnya korban jiwa disamarkan jumlahnya itu sudah biasa, untuk menunjukkan keperkasaan di hadapan lawan perang.

Bagaimana jika lawan perangnya adalah virus corona atau wabah Covid-19 yang kini jadi musuh utama dunia. Apakah negara juga akan menyembunyikan korban meninggal, atau jumlah kasusnya?

Dengan berbagai alasan dan pertimbangan, tentu hal itu bisa dilakukan, tak terkecuali negara-negara yang kini sedang dilanda wabah coronavirus.

Karena saling tuding menyembunyikan data kasus coronavirus, hubungan dua negara yang sudah lama berseteru, yaitu Amerika Serikat dan Iran ini makin memanas. Saling tuduh dan menyudutkan.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengecam AS, dan menyebut AS menebar ketakutan tentang coronavirus di negeri para Mullah itu. Rouhani menuduh AS sedang berjuang melawan corona. Ada 16 ribu orang meninggal karena flu di AS tetapi mereka tidak bicara soal kematian ini. Demikian Iran menuduh AS.

Komentar ini dilontarkan Iran setelah Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan negerinya khawatir bahwa Iran masih menyembunyikan rincian detail soal penyebaran corona di negara tersebut.

Ia pun meminta Iran untuk buka-bukaan soal corona. AS memperkirakan korban terdampak corona di Iran lebih banyak daripada yang diumumkan. Apalagi Iran dan China punya hubungan dagang sangat kuat.

Iran menyatakan, ada 95 kasus coronavirus di Iran, 15 orang meninggal. Namun AS menuduh angka sebenarnya lebih dari itu. Apalagi Wakil Menteri Kesehatan Iran, Iraj Harirchi baru saja dinyatakan positif terkena coronavirus. Padahal sehari sebelumnya dia menggelar konferensi pers. Kemarin dia tampak beberapa kali mengusap keringat dan batuk. Setelah diperiksa, dia dinyatakan positif terkena virus corona.

Sejumlah pihak mencurigai Iran menutup-nutupi jumlah kasus terkonfirmasi dan kasus kematian akibat covid-19. Pahahal logikanya, jika pemerintah menutupi kasus yang sebenarnya, maka bisa berakibat lebih fatal. Penyebaran coronavirus semakin tidak terkendali.

Mayoritas kasus virus corona di Iran dikaitkan dengan Qom, yakni tujuan keagamaan utama bagi peziarah Syiah yang berlokasi sekitar 85 mil dari Teheran. Pejabat dari Qom mengklaim pada Senin (24/2/2020) lalu ada 50 orang tewas di kota tersebut. Namun Teheran membantah hal itu.

Dan akibat penyebaran virus di Iran yang begitu cepat, fakta saat ini, negara-negara di Timur Tengah menutup perbatasan dan menangguhkan penerbangan dari dan ke Iran. Mengerikan.

Hingga 26 Februari 2020, wabah corona virus mencapai 80.967 kasus, dan korban meninggal sudah 2.763 orang. Belum tahu apakah pasien suspect coronavirus di RSUP dr Kariadi yang meninggal pada hari Minggu (23/2) kemarin masuk dalam hitungan itu atau tidak. Yang jelas, Kemenkes RI menyatakan bahwa hasil laboratorium, pasien suspect coronavirus asal Jawa Tengah yang meninggal itu adalah Negatif Convid-19. (*)

Penulis: iswidodo
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved