Ngopi Pagi
FOKUS: Urban Farming dan Ketahan Pangan
Menyambut hari jadinya yang ke-473, Kota Semarang menggelar berbagai kegiatan. Satu di antaranya adalah Semarang Agro Expo
Penulis: galih pujo asmoro | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Galih Pujo Asmoro
Wartawan Tribun Jateng
Menyambut hari jadinya yang ke-473, Kota Semarang menggelar berbagai kegiatan. Satu di antaranya adalah Semarang Agro Expo yang digelar di Taman Agro Purwosari, Kecamatan Mijen selama dua hari pada 29 Februari dan 1 Maret kemarin.
Ada hal menarik terkait kegiatan itu. Dinas Pertanian Kota Semarang meminta masyarakat untuk menerapkan urban farming alias pertanian perkotaan. Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur mengatakan, urban farming selain bisa mempercantik kota juga berkontribusi dalam meningkatkan ketahan pangan.
Urban faming adalah konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan, yang berbeda ada pada pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat urban.
Terkait urban farming, Hernowo mengajak anak muda untuk mengembangkan urban farming. Tak hanya bercocok tanam di lahan yang terbatas, namun juga dengan bantuan teknologi, bisa menyentuh hingga pemasarannya.
Terkait pertanian di Kota Semarang, Hernowo mengungkapkan meski luas lahan pertanian bisa dibilang terbatas, namun hasilnya tergolong melimpah. Hal itu dikarenakan keberhasilan Pemerintah Kota Semarang menjaga produktivitas dari lahan yang terbatas itu.
Urban farming ke depannya sangat mungkin jadi tren di tiap rumah di perkotaan. Dengan lahan yang sangat terbatas, masyarakat sudah bisa menikmati sayur dan buah sehat yang ditanamnya sendiri. Selain bisa menghemat isi kantong, masyarakat bisa memastikan apa yang dikonsumsinya sehat atau tidak tergantung bagaimana cara ia merawat tanamannya.
Saya meyakini jika bertani dengan lahan terbatas akan makin diminati. Caranya pun saat ini makin beragam. Sebut saja hidroponik, aquaponik, pertanian vertikal dan lain sebagainya.
Faktor lain yang bisa mendorong urban farming kian populer lantaran pola hidup masyarakat yang makin sadar untuk menjaga kesehatan. Lihat saja, banyaknya orang yang berolahraga di Tri Lomba Juang tiap sore. Belum lagi menjamurnya tempat gym yang selalu ramai. Terbanyak, adalah kalangan anak muda.
Setelah berolahraga, mereka tentu ingin mengonsumsi makanan sehat. Ada seorang teman mengatakan jika makanan sehat adalah makanan yang dimasak oleh orang yang hendak mengonsumsinya. Namun tentunya, akan lebih sempurna lagi jika makanan yang kita konsumsi adalah hasil dari tanaman dan dimasak sendiri.
Indonesia dikenal sebagai negara agraris. Karena alasan melimpahnya komuditas dan sumber daya alam itulah yang jadi satu di antara alasan terbesar mengapa Belanda bercokol lama di negeri ini. Sudah sewajarnya jika Indonesia ke depan harus makin maju di bidang pertanian.
Indonesia sudah punya modal besar, yakni tanah subur dengan dukungan iklim tropis. Di Indonesia “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Jika sebagian besar masyarakat perkotaan menerapkan urban farming untuk memenuhi konsumsi pribadi, dibarengi dengan anak muda di perdesaan mau matun dan mengelola sawah, tentu sedikit banyak akan membantu negara agraris ini tidak mengimpor hasil pertanian. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/galih-pujo-asmoro_20170706_072750.jpg)