Jumat, 5 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Forum Mahasiwa

Forum Mahasiswa Wahyu Egi Widayat : Pramuka dan Humanisme

Menarik membaca tulisan yang berjudul “Pramuka dan Keselamatan dalam Berkegiatan” oleh Ferika Sandra di rubrik ini pada Kamis (27/02/2020).

Tayang:
Bram Kusuma
Wahyu Egi Widayat 

Oleh Wahyu Egi Widayat

Ketua Racana STAINU Temanggung

Menarik membaca tulisan yang berjudul “Pramuka dan Keselamatan dalam Berkegiatan” oleh Ferika Sandra di rubrik ini pada Kamis (27/02/2020). Ada yang luput dikaji olehnya, dalam artikelnya seolah-olah kegiatan Pramuka menjadi momok. Karena telah menimbulkan korban jiwa.

Atas kejadian yang menimpa SMP N 1 Turi, Sleman telah membuat jagat maya ramai. Banyak netizen yang melontarkan komentarnya bahwa Pramuka adalah organisasi yang tidak bermanfaat, bahkan salah, bagi mereka yang mengikuti Pramuka. Sebab, banyak kejadian yang ditampilkan hampir mayoritas berbau negatif.

Namun, berkaca dari hal tersebut, masih banyak kegiatan Pramuka yang kental akan nilai positif. kegiatan-kegiatan yang tidak didapatkan dibangku sekolah. Kegiatan-kegiatan yang lebih banyak dilaksanakan di luar kelas dan bersinggungan langsung dengan masyarakat.

Kejadian tersebut merupakan kelalaian dan kurang mendalamnya kajian terkait manajemen resiko. Sebab, aturan terkait menejemen resiko telah dikeluarkan. Sehingga, hal tersebut merupakan kelalaian individu bukan pada organisasinya.

Pramuka merupakan kegiatan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Karakter yang dimaksud adalah sesuai dengan nilai-nilai yang tercantum dalam dasa darma. Sepuluh darma yang menjadi landasan anggota pramuka dalam beraktifitas sehari-hari.

Darma pertama, terkandung nilai spiritual untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan serta perintah untuk menjalankan perintah dan menjauhi segala larangannya sesuai dengan agama yang dianut.

Kedua, anggota pramuka wajib menyayangi seluruh alam beserta isinya. Bahkan, jangan sampai membeda-bedakan suku, agama, ras, dan antar golongan yang berbeda dengan dirinya. Sebab, kekeluargaan telah terpatri dalam diri Pramuka, nilai toleransi menjadi pegangan.

Ketiga, seorang Pramuka harus bersikap sopan dan santun. Sopan dan santun diamalkan seperti sorang kesatria dan berjiwa patriotis yang cinta terhadap bangsa dan negara.

Keempat, patuh dan suka bermusyawarah. Sebagai seorang patriot, harus taat hukum baik negara mau pun adat. Sebab, norma merupakan proyeksi dari bangsa Indonesia yang negara hukum.

Kelima, sikap tolong menolong. Bukan sebatas pada sesama anggota tapi kepada seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut telah memunculkan unit Pramuka Peduli di seluruh Indonesia dan Unit Bantu Pertolongan Pramuka (UBALOKA) yang hanya ada di Jawa Tengah. Unit tersebut sebagai Tim Reaksi Cepat (TRC) ketika terjadi bencana.

Keenam, rajin, terampil dan bergembira. Poin ini yang harus dipahami oleh seluruh kalangan. Bahwa gembira menjadi sistem dalam pendidikan Pramuka. Kegiatan Pramuka haruslah yang menyenangkan dan mendidik agar peserta dapat bergembira. Bukan kegiatan yang menjemukan, sehingga subtansi dari nilai ini tidak didapatkan.

Ketujuh, bersikap cermat dalam mengambil keputusan. Harus memeprtimbangkan segala aspek plus minus dari keputusan tersebut. Melihat keuntungan dan kerugian, bahaya dan tidaknya dalam berkegiatan. Sebab, kunci utama dalam kegiatan dalam keselamatan. Sehingga pertimbangan baik buruknya kegiatan harus menjadi prioritas. Resiko harus dimanajemen dengan baik sesuai dengan aturan yang telah ditentukan Kwartir Nasioanl.

Delapan, kedisiplinan harus dicerminkan dalam berkehidupan. Sebab, kedisplinan sesorang akan mempengaruhi prinsip hidupnya. Sehingga disiplin akan berpengaruh pada tanggung jawab seseorang agar dapat dipercaya orang lain. Oleh karenanya, sikap bertanggung jawab harus selalu tertanam dalam diri Pramuka agar memunculkan kepercayaan dari orang lain. Nilai tersebut penjabaran dari darma yang kesembilan.

Sepuluh, suci dalam bertindak, berbicara dan berfikir. Segala bentuk tindakan yang tidak mencerminkan kesucian tidak pernah diajarkan di dalam pendidikan Pramuka. Sehingga sikap toleransi begitu tinggi, tidak pernah membeda-bedakan orang lain.

Kesemua darma tersebut harus terpatri di dalam diri Pramuka. Bukan hanya oleh anggoda muda yang terdiri dari Siaga, Penggalang, Penegak, dan Pandega, namun juga para pembina dan anggota dewasa lainnya. Sehingga subtansi dari Pramuka adalah kegiatan yang menyenangkan serta mendidik untuk mewujudkan nilai-nilai yang terkandung di dalam dasa darma.

Pengembangan Diri

Untuk pengamalan dari dasa darma yang ada, anggota Pramuka diberi kebebasan menempa dirinya pada bidang-bidang lain. Bukan hanya pada materi sejarah, tali-temali, semaphore, sandi-sandi, atau hanya tepuk tangan.

Pramuka lebih dari itu, karena dari usia Siaga (7-10 tahun) sudah diajak untuk mengenal kebudayaan di Indonesia. Mulai dari budaya lokal sampai pada budaya nasional.

Usia 11-15 tahun dikenal dengan golongan Penggalang. Diarahkan untuk mempersiapkan dalam pembangunan masyarakat. Melalui kegiatan yang terlibat langsung dengan masyarakat. Bakti sosial salah satu alternatif kegiatan Penggalang. Terlibatnya dalam permainan yang edukatif dan menantang sesuai dengan porsi usianya.

Penegak dan pandega (16-25 tahun) sudah pada ranah mencari jadi diri. Pada usia ini, peserta sudah mulai berjalan sendiri, hanya 25 % pendampingan dari orang dewasa dan usia Pandega orang dewasa hanya pada ranah pengawasan.

Pengembangan pada usia tersebut sudah lebih komplek. Peserta dalam mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah. Mereka dapat bergabung pada Satuan Karya (SAKA), Dewan Kerja, atau unit Pramuka yang lain.

Sesuai dengan regulasi yang ditetapka oleh Kwartir Nasional, saka terdiri dari yaitu, Saka Bhayangkara tentang Kebhayangkaraan yang dibina langsung oleh anggota kepolisian, Saka Dirgantara tentang kedirgantaraan bernaung di TNI Angkatan Udara, Saka Wirakartika bernaung di instansi TNI Angkatan Darat, di lingkungan TNI Angkatan Laut terdapat Saka Bahari.

Saka Taruna Bumi berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, Saka Widaya Budaya Bakti tentang seni dan pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menaungi Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru, Kementerian Pariwisata dengan Saka Pariwisata.

Pada bidang kesehatan terdapat Saka Bakti Husada, bidang penyuluh keluarga berencana ada Saka Kencana. Saka Milenial membahas teknologi digital. Akan tetapi saka milenial hanya ada di Jawa Tengah.

Alternatif lain selain saka yaitu unit. Setiap Kwartir dapat membuat unit kepramukaan sesuai dengan kebutuhan. Hal ini dimaksudkan pengembangan Pramuka bukan hanya pada regulasi yang ada, akan tetapi kebebasan dalam pengembangan diri.

Kwartir Nasional telah mengeluarkan petunjuk penyelenggaraan tentang Pramuka Peduli (Pramuli). Pramuli mengajarakan anggota pramuka untuk saling tolong menolong. Tolong menolong untuk membentuk rasa kemanusian, sehingga ketika ada seseorang yang membutuhkan bantuan Pramuli hadir untuk memberikan bantuan.

Selain terhadap sesama manusia, Pramuli bertugas untuk merawat alam. Melalui kegiatan yang bersifat konservatif agar keseimbangan alam terjaga. Serta mengurangi bencana yang diakibatkan oleh ekploitasi manusia.

UBALOKA adalah unit yang dibentuk oleh Kwartir Daerah Jawa Tengah. Unit tersebut fokus pada bidang pertolongan atau Search and Rescue. Pada unit ini peserta didik dibekali dengan teknik penyelematan. Teknik penyelamatan dipelajari secara keseluruhan, termasuk pada segala medan. Unit tersebut berkolaborasi dengan Badan Sar Nasional atau Basarnas.

Hal di atas merupakan gambaran terhadap kegiatan kepramukaan. Dapat simpulkan bahwa kegiatan kepramukaan bukan kegiatan yang bersifat penggojlogan fisik dan perpeloncoan. Oerientasi Pramuka pada kegiatan yang bersifat edukatif dengan mengutamakan aspek yang menyenangkan.

Menyenangkan yang mengutamakan aspek keselamatan. Malalui Pramuka Peduli pembelajaran manajemen resiko salalu ditekankan. Disetiap kegiatan kepelatihan, tentang manajemen resiko selalu disampaikan. Sebab, keselamatan merupakan point yang utama dalam berkegiatan.

Oleh karenanya, Pramuka tidak pernah menganjurkan menggunakan metode kekerasan atau perpeloncoan. Pramuka menggunakan sistem kekeluargaan yang selalu menebarkan humanisme untuk merangkul semua kalangan tanpa mebeda-bedakan. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved