Berita Kudus

SELAMAT, Teater Tigakoma Universitas Muria Kudus Juara Kompetisi Monolog Nasional

Teater Tigakoma asal Kudus berhasil menjadi juara pertama kompetisi monolog antaruniversitas tingkat nasional.

Penulis: raka f pujangga | Editor: Daniel Ari Purnomo
Istimewa
Tim monolog Teater Tigakoma foto bersama dua juara lainnya, dewan juri, dan panitia usai penyerahan hadiah di TBJT Solo. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Teater Tigakoma asal Kudus berhasil menjadi juara pertama kompetisi monolog antaruniversitas tingkat nasional.

Tiga kategori nominasi yang diperebutkan, seluruhnya diborong teater dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus (FKIP UMK) itu.

Masing-masing yakni Juara I Penyaji Terbaik, Juara I Penata Artistik Terbaik, dan Juara I Penata Musik Terbaik.

Niat Sholat Qobliyah dan Badiyah Jumat, Amalan Sunnah Pengganti Rawatib Sholat Dzuhur

Bripka Asep Polisi yang Viral Jadi Imam di Sel Tahanan Dipanggil Kapolri, Langsung Dapat Tawaran Ini

Setelah Tenggak Ciu, 4 Remaja Putri Putus Sekolah di Semarang Rampas Handphone Pelajar

Perwira TNI AD Ngamar dengan 3 Pria Berbeda di Hotel Diadili, Diduga Disorientasi Seksual

Lomba bertajuk "Art and Sport Appreciation by Economic and Business Faculty of UNS" (ARTEFAC) oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) itu diikuti 20 kelompok teater kampus dari seluruh Indonesia.

Di antaranya dari Kudus, Semarang, Solo, Yogyakarta, Banyuwangi, Jember, Malang, Bandung, Jakarta, hingga Palu.

Ketua Teater Tigakoma, Afif Khoirudin mengaku, bersyukur atas raihan prestasi di 2020 ini karena telah mempersiapkan hingga tiga bulan sebelumnya.

Dalam kompetisi itu, pihaknya membawakan lakon Cermin karya Nano Riantiarno.

"Bersyukur."

"Semoga jadi penyemangat untuk proses karya selanjutnya," ungkapnya, Jumat (13/3).

Aktor monolog Cermin, Muhammad Rifky menyampaikan, lakon itu bercerita mengenai perjalanan hidup dan pergulatan batin seorang tokoh yang hendak menjalani hukuman mati karena membunuh enam orang dan melukai tiga orang.

Menurutnya, tafsir lakon tersebut dibebaskan dari ikatan gaya realisme yang tampak dalam proses penulisan naskah.

Tujuannya agar pementasan dapat dieksplorasi lebih bebas.

"Tujuannya agar kami dapat leluasa menggali kemungkinan-kemungkinan dan potensi ide-ide di luar teks naskah," jelasnya.

Kendati demikian, gaya realisme sebagai bagian dari gerakan dan sejarah seni teater tetap dihargai.

"Untuk itu kami mencoba tetap meminjam gaya ini, dengan menyebut gaya kami sebagai realisme simbolis," imbuh mahasiswa yang kini duduk di bangku semester empat itu.

Diketahui, ada tiga orang yang menjadi dewan juri dalam lomba yang digelar selama 10-11 Maret 2020 kemarin.

Pengumuman hasil lomba monolog disampaikan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta pada Rabu (11/3/2020) malam kemarin.

Sedangkan untuk juara kedua diraih Sanggar Seni Gimba asal Kota Palu dan juara ketiga Teater Soekamto dari Kota Solo. (raf)

Polres Kendal Ajari Siswa SD Cara Cuci Tangan Cegah Virus Corona Versi WHO

Nomor Beregu Putri, Tim UNS Pertahankan Posisi Puncak Klasemen LIMA Badminton 2020

Misteri Pasien Positif Corona Kasus 27 Diungkap Achmad Yurianto, Dari Sini Dia Tertular

Temukan Bukti Uang di Laci Kades, Polres Purbalingga Naikkan Kasus Dana Syukuran ke Penyidikan

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved