Liputan Khusus

WARNING! Jangan Sekali-kali Korban Dibawa ke RS Saat Kondisi Tangan dan Kaki Dingin, Ini Resikonya

Saat ini demam berdarah dengue (DBD) sedang menjadi wabah di Indonesia selain wabah virus corona atau Covid-19.

TRIBUNNEWS
Nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue penyebab demam berdarah dengue 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Saat ini demam berdarah dengue (DBD) sedang menjadi wabah di Indonesia selain wabah virus corona atau Covid-19. Kasus DBD bahkan tercatat jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan kasus Covid-19.

Hingga Rabu 11 Maret, di Indonesia tercatat puluhan pasien DBD meninggal dunia. Selain itu, jumlah kasus DBD telah tercatat sebanyak 17.820 kasus, sebagaimana data Kemenkes. Di Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat 37 penderita DBD meninggal dunia hingga 11 Maret kemarin.

Jumlah penderita DBD di provinsi itu mencapai 3.109 jiwa dengan tingkat kematian sebesar 1,19 persen. Hingga Maret 2020 ini total sudah 50 orang meninggal dunia akibat virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti itu.

Di Kabupaten Semarang, tercatat ada 47 kasus DBD terhitung hingga Maret 2020 ini. Dari jumlah tersebut, ada 1 penderita yang meninggal dunia.

"Data sampai 4 Maret 2020, ada 47 kasus DBD, dengan 1 orang meninggal dunia," jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Semarang, Hasti Wulandari.

Demikian juga di Batang. Ada tercatat 57 kasus orang yang positif Demam Berdarah Dengue. Sementara data yang dihimpun dari dokter spesialis anak, RSUD Kalisari Batang Tan Evi Susanti mencatat dari 213 pasien anak, 39 pasien anak terdiagnosa DBD.

"Sejak Desember ada 39 anak yang terdiagnosa DBD dari jumlah pasien anak dan sudah ditangani di ruang anak, dan ini sudah ada peningkatan sekitar 47 persen," katanya. Dikatakannya, untuk kasus DBD sudah ada satu pasien anak yang meninggal dunia pada pertengahan februari lalu.

Berdasarkan data yang diungkapkan oleh Direktur RSUD KRMT Wongsonegoro, Susi Herawati, sudah ada 12 pasien demam berdarah yang sedang dirawat. Namun, angka tersebut menurutnya ada penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

"Tahun lalu (2019) pada bulan Maret, di rumah sakit kami pernah merawat 237 pasien karena demam berdarah. Bulan Februari ada 125 dan di bulan Januari ada 92 orang," ujarnya.

Menurut Susi, penurunan angka tersebut disinyalir karena masyarakat sudah mulai paham bagaimana cara menangani demam berdarah. Selain itu, ada tindakan preventif yang dilakukan oleh pihak Puskesmas setempat. "Berdasar pengamatan saya seperti itu. Tapi apakah ada faktor lain juga bisa jadi," terang Susi.

Halaman
1234
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved