Wabah Virus Corona
FOKUS : GWS Indonesia!
Tak bisa dipungkiri wabah Virus Corona yang sedang melanda negeri ini membuat banyak orang cemas.
Penulis: galih permadi | Editor: galih permadi
Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi
Tak bisa dipungkiri wabah Virus Corona yang sedang melanda negeri ini membuat banyak orang cemas.
Menurut data yang disampaikan juru bicara pemerintah khusus penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, hingga Kamis (19/3/2020), terdapat 309 kasus positif Virus Corona dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 25 orang.
Kasus positif Virus Corona paling banyak terjadi di DKI Jakarta dengan 210 kasus, sedangkan di Jawa Tengah terjadi 12 kasus.
Pasien meninggal paling banyak terjadi di Jakarta dengan 17 orang, sementara itu di Jateng sudah 3 pasien meninggal.
Namun di tengah badai, ada secercah harapan 15 pasien positif Corona dinyatakan sembuh.
Saya mengapresiasi tiga pasien sembuh Corona mau tampil di depan publik dan berbagi pengalaman mereka dari awal terjangkit, di ruang isolasi, hingga dinyatakan sembuh. Ketiganya yakni pasien 01, Sita Tyasutami, Maria Darmaningsih (pasien 02), dan Ratri Anindya (pasien 03).
Pengalaman mereka sebagai eks pasien positif Corona perlu diketahui masyarakat banyak di tengah bayangan seram penyakit dan di balik ruang isolasi.
"Saya bersyukur sekali diisolasi,” ujar Maria.
Namun sayangnya, banyak yang menganggap negatif sikap mereka mempublikasikan diri sebagai upaya panjat sosial (pansos) bahkan tak sedikit pers konferensi yang mereka hadiri sebagai upaya settingan pemerintah.
Saat-saat ini cerita pengalaman mereka dibutuhkan di tengah banyak masyarakat yang cemas dengan serangan Coronavirus Diseas 2019 (Covid-19).
Cerita mereka dibutuhkan agar membuka pemikiran masyarakat agar sadar diri jika mengalami gejala atau terekspos pernah kontak dengan orang yang dinyatakan positif corona untuk memeriksakan diri.
Ruang isolasi tak seseram yang dibayangkan. Jangan sampai kasus kaburnya pasien suspect atau positif Corona terulang kembali yang tentunya bakal ngrepoti pemerintah dan petugas kesehatan. Upaya mereka melakukan penanganan akan semakin berat.
Indonesia bukan hanya harus berjuang melawan wabah,namun juga berjuang menyatukan masyarakatnya dalam satu jalan melawan Covid-19 agar wabah ini tak semakin meluas.
Mendukung pemerintah pusat hingga daerah dalam menuntaskan wabah ini juga diperlukan. Saatnya berkontribusi daripada caci maki.
Jika memang diminta untuk melakukan jarak sosial (social distancing) ya jalani. Jika memang diminta belajar atau bekerja di rumah ya lakoni, jangan malah kebijakan pemerintah dilanggar dijadikan kesempatan untuk plesiran.
Jika diminta tidak panic buying ya dilakukan. Tak perlu borong sembako berlebihan.
Toh,dalam sehari kita hanya membutuhkan 1.500-2.000 kalori dalam sehari agar tidak kelaparan atau mati.
Makan nasi plus telor ceplok ditambah kecap saja sudah setara 500-an kalori.
Makan tiga kali dengan menu serupa kebutuhan kalori sudah terpenuhi.
Begitu juga dalam pembelian hand sanitizer dan masker.
Beli secukupunya.
Prioritaskan bagi yang memiliki gejala, suspect, pasien positif Corona dan tenaga medis.
Jangan sampai pengalaman jurnalis VOA, Rafki Hidayat yang terekspos dengan orang positif Corona kesulitan mendapatkan masker lantaran ada panic buying.
Jangan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Perbesar empati.
Seperti kata Michelle Obama : Kamu ngga bisa bahagia, kalau cuma kamu satu-satunya yang bahagia. GWS Indonesia! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/galih-permadi_20180522_075259.jpg)