Berita Tegal

Apa Beda Rapid Test dan PCR Pemeriksaan Virus Corona? Ini Penjelasan Kadinkes Kabupaten Tegal

Selama pandemi virus corona, masyarakat tidak asing dengan istilah Rapid Test dan PCR. Simak penjelasan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: m nur huda
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww
ILUSTRASI - Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil tes cepat (rapid test) pendektesian COVID-19 kepada orang dalam pengawasan (ODP) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/3/2020). Tes tersebut diperuntukan bagi peserta Seminar Anti Riba yang berlangsung di Babakan Madang Kabupaten Bogor pada 25-28 Februari 2020, dimana dua orang peserta seminar tersebut meninggal dunia di Solo Jawa Tengah akibat COVID-19. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Selama pandemi virus corona masuk ke Indonesia, masyarakat tidak asing dengan istilah Rapid Test dan PCR (Polymerase Chain Reaction).

Namun sebagian besar mungkin belum paham secara pasti apa makna dari kedua istilah tersebut.

Maka pada kesempatan ini, Kepala Dinkes Kabupaten Tegal, Hendadi Setiaji, memberikan penjelasan terkait perbedaan dari kedua istilah tersebut.

Update Corona 14 April di Cilacap: 1122 Orang Telah Selesai Pemantauan dari ODP, Simak Lengkapnya

Jokowi Minta Pemda Pangkas Anggaran Dinas Tak Penting, Alihkan Ke Penanganan Corona

Seorang Dosen di Malang Positif Corona, Satgas Covid-19 Telusuri Riwayat Kontak hingga Kampus

Heboh Surati Camat Minta Dukungan, Staf Khusus Andi Taufan Garuda Sampaikan Maaf

Dijelaskan, dalam proses pemeriksaan virus corona PCR (Polymerase Chain Reaction) ini merupakan hasil yang akurat. Karena PCR ini mengatahui apakah virus corona ada atau tidak.

Proses pemeriksaan PCR ini, yaitu dengan mengambil lendir atau cairan dari tenggorokan dan hidung pasien. Misal hasil sudah keluar ini sudah dipastikan akurat.

Proses pemeriksaan PCR ini dilakukan kepada orang yang status nya sudah PDP (Pasien Dalam Pengawasan). Sedangkan yang kontak erat tanpa gejala, proses pemeriksaan menggunakan Rapid Test.

"Rapid Test ini sebenarnya hanya untuk mengetahui apakah sudah ada antibodi atau belum. Sementara ini untuk Rapid Test kami dibantu oleh provinsi, dengan jumlah yang sangat terbatas. Adapun sasaran utamanya yaitu kontak erat yang PDP apalagi yang Positif," jelas Hendadi, pada Tribunjateng.com, Selasa (14/4/2020).

Sementara ini, lanjutnya, semua yang kontak erat dengan pasien PDP atau terkonfirmasi positif di Rapid Test.

Biayanya cukup mahal, karena satu alat tes untuk mengambil darah itu harganya antara Rp 200 ribu - Rp 250 ribu per stik nya.

Adapun di Kabupaten Tegal yang sudah menjalani Rapid Test sekitar 200 orang. Baik yang kontak erat dengan pasien PDP atupun yang terkonfirmasi.

"Tidak hanya keluarga atau orang disekitar pasien, tenaga medis juga melakukan Rapid Test ini. Sedangkan di Kabupaten Tegal tenaga medis yang sudah melakukan Rapid Test yaitu di RSUD dr Soeselo Slawi, Mitra Siaga, dan RSUD Suradadi dengan hasil negatif," ungkapnya.

Jumlah tenaga medis yang sudah menjalani Rapid Test di Kabupaten Tegal, menurut Hendadi, untuk di RSUD Suradadi ada 20 orang. Lalu di Mitra Siaga 20 orang, dan DI RSUD dr Soeselo Slawi ada 50 orang.

"Jadi intinya adalah proses Rapid Test itu hasilnya belum valid atau penentu positif atau bukan, tapi lebih ke antibodi pada kontak erat.

Sedangkan proses PCR inilah hasil yang mutlak atau hasil akhir untuk mengetahui ada virus corona atau tidak," tandasnya. (dta)

Hasil Swab Keluar Terlambat Bikin Geger, Jenazah Ojol Terlanjur Dimakamkan & Tahlilan 7 Hari

Contohkan Kasus Suwakul, Mabes Polri: Penolakan Pemakaman Jenazah Pasien Corona Ada Sanksinya

Kerajaan Arab Saudi Larang Sholat Tarawih di Masjid Selama Masih Ada Wabah Virus Corona

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved