Berita Properti

Wabah Virus Corona, Minat Masyarakat Membeli Rumah Subsidi Turun

Hal itu karena perekonomian Indonesia mengalami pelemahan karena wabah Covid-19, yang berimbas pada daya beli masyarakat

KOMPAS.com/DANI PRABOWO
Ilustrasi rumah subsidi. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Minat masyarakat akan rumah bersubsidi terus turun sejak terjadi pamdemi Covid-19.

Beberapa pengembang menuturkan penurunan minat kepemilikan rumah tersebut mencapai 30 persen.

Lesunya bisnis properti membuat Pemerintah Pusat menelurkan kebijakan
keringanan dengan insentif subsidi selisih bunga KPR.

Di mana pemerintah mengglontorkan dana Rp 1,5 triliun untuk menanggung selisih bunga KPR di atas 5 persen.

Meski insentif subsidi itu diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah selama 10 tahun, namun belum ampuh memikat masyarakat.

Hal itu karena perekonomian Indonesia mengalami pelemahan karena wabah Covid-19, yang berimbas pada daya beli masyarakat.

Bahkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebutkan, dampak pandemi Covid-19 mempelambat ekonomi Indonesia ke level 2,5 persen hingga 0 persen.

Menurut Febri Anjar pemilik PT Khasanah Karya Utama, di tengah pandemi Covid-19, daya beli masyarakat untuk rumah subsidi kurang baik.

"Tahun lalu 70 persen dari 200 rumah subsidi yang kami bangun laku dibeli masyarakat, namun kini minat masyarakat hanya di angka 40 persen," jelasnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (15/4/2020).

Dilanjutkannya, insentif subsidi selisih bunga KPR yang diberikan pemerintah juga tidak perpengaruh.

"Daya beli masayarakat tetap saja tidak terdongkrak, mungkin karena perekonomian terus melemah," paparnya.

Lesunya dunia properti, dijelaskan Febri, diperparah dengan naiknya harga bahan bangunan yang mencapai 10 persen setiap pekannya.

"Harga bahan bangunan terus naik, besi contohnya, yang selalu mengikuti Dolar. Padahal pekan lalu besi 12 meter ukuran 10 inci masih di angka Rp 50 ribu, kini bisa sampai Rp 60 ribu," ucapnya.

Dikatakannya, di tengah pelemahan ekonomi, bisnis properti tetap berjalan meski pincang.

"Mau tak mau harus tetap berjalan, pembangunan juga tetap dilanjutkan karena pekerja tetap butuh pemasukan," imbuhnya. (bud)

Penulis: budi susanto
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved