Berita Semarang
Tanpa Dihadiri Masyarakat, Hendi Laksanakan Tradisi Dugderan di Kota Semarang
Tradisi Dugderan yang biasa digelar sebagai penanda datangnya bulan Ramadan di Kota Semarang digelar dengan suasa berbeda, Kamis (23/4)
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tradisi Dugderan yang biasa digelar sebagai penanda datangnya bulan Ramadan di Kota Semarang digelar dengan suasa berbeda, Kamis (23/4). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi Dugderan di Kota Semarang dilaksanakan tanpa melibatkan masyarakat umum.
Dilakukan secara sederhana di Masjid Agung Semarang atau yang juga dikenal sebagai Masjid Kauman, tak terdengar suara meriam yang biasanya menjadi ciri khas prosesi Dugderan.
Berlangsung dengan khusyuk, prosesi Dugderan hanya ditandai dengan pemulukan bedug oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.
• Awal Puasa Ramadhan 1441 H Ditetapkan Besok, Ini Tata Cara dan Niat Sholat Tarawih Mulai Malam Ini
• Arif Sempat Tanyai Istrinya Sebelum Tewas Pesta Miras Oplosan dengan Siapa? Vera: Minum dengan Galon
• Ini Cara Mudah Dapatkan Stiker Whatsapp WA Ucapan Selamat Menjalankan Puasa Ramadhan 1441 H
• Ini 15 Ucapan Menyambut Ramadhan 2020 yang Liris Menyentuh Hati
Dengan menggunakan masker, Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut menegaskan jika pelaksanaa tradisi Dugderan saat ini dilaksanakan dengan mempertimbangkan sejumlah protokol kesehetan.
Hal itu dilakukan untuk menjaga seluruh masyarakat terhindar dari penularan virus COVID-19.
“Tahun ini Dugderan kita selenggarakan hanya dengan diikuti oleh saya, ibu Wakil Walikota, Pak Sekda, para Kyai, dan takmir Masjid Kauman.
Jadi prosesi tetap dilaksanakan namun terbatas, guna menghindari penyebaran Covid-19,” terang wali kota Semarang Hendrar Prihadi usai pelaksanaan tradisi dugderan di Majid Kauman Semarang, Kamis (23/4).
Sementara dalam kesempatan itu, Takmir Masjid Kauman, KH. Hanief Ismail Lc, menekankan jikan selamat Bulan Ramadhab 1441 Hijiriyah, Masjid Agung Semarang tidak menggelar shalat Tarawih.
Dimana sebelumnya juga Masjid Agung Semarang telah mengambil kebijakan untuk tidak menyelenggarakan Shalat Jumat sejak 27 Maret 2020 lalu.
“Shalat Jumat yang merupakan ibadah wajib saja tidak, apalagi shalat Tarawih. Maka selama bulan ramadhan ini kami himbau kepada masyarakat untuk ibadah tarawih di rumah masing-masing,” tandasnya.
Tradisi Dugderan sendiri selain merupakan tradisi budaya menyambut datangnya bulan Ramadan di Kota Semarang, juga menjadi salah satu daya tarik wisata Ibu Kota Jawa Tengah.
Sehingga penyelenggaraan Dugderan secara terbatas juga dimaksudkan untuk tidak menarik masyarakat dalam jumlah besar.
Sedangkan tetap dilaksanakannya prosesi merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi, meskipun harus dilakukan dalam suasana yang berbeda dari biasanya.(*)
• Betrand Peto Menangis Sedih Tinggalkan Apartemen, Cegah Ruben Onsu Jual karena Alasan Ini
• Viral Foto Korban Begal Tergeletak di Pinggir Jalan di Semarang, Ini Faktanya
• Menkumham Yasonna Laoly Digugat Gegara Bebaskan Napi Program Asimilasi Cegah Corona
• Pasien Positif Corona Naik Bus Suhu Tubuhnya Tinggi, Sopir Kondektur hingga Penumpang Jalani Isolasi