Ramadhan 2020
Kiat Memelihara Indra dari Maksiat
DALAM Alquran surat al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa siapapun yang melaksanakan puasa Ramadhan atas dasar iman diharapkan bertakwa kepada Allah.
Oleh Danusiri
Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah PW Muhammadiyah Jateng
DALAM Alquran surat al-Baqarah ayat 185 disebutkan bahwa siapapun yang melaksanakan puasa Ramadhan atas dasar iman diharapkan bertakwa kepada Allah.
Predikat takwa menurut ayat itu tidak otomatis bahwa yang berpuasa menjadi takwa, melainkan baru bersifat probalitas. Artinya, hasil puasa seseorang bisa berbuah takwa, bisa juga berbuah lain.
Bagi pelaku puasa yang berbuah takwa memperoleh kemenangan besar, yaitu masuk surga melalui pintu khusus yang disebut ar-Rayyan (hadis riwayat Bukhari nomor 3.257). Selain mereka tidak bisa memasukinya. Seperti apa puasa mereka itu?
Imam Ghazali menyebutkan kualitas puasa yang dapat menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa.
Jika pelaku puasa tidak bisa menghentikan perbuatan maksiat, seperti membuat atau menyebarkan berita hoax, tentu sia-sia puasanya. Itulah sebabnya Rasulullah pernah menyatakan bahwa banyak orang berpuasa hanya memperoleh lapar dan haus (hadis riwayat ath-Thabrani dan Ibnu Majah, hadis nomor 1690).
Allah tidak membutuhkan puasa seorang pendusta (hadis riwayat Bukhari, nomor 1804). Secara rasional, seorang muslim tidak ingin sia-sia dalam melaksanakan puasanya.
Penghitungan Untung Rugi
Menghindari maksiat mata tentu tidak melihat apa saja yang secara syar’i tidak membolehkan untuk dilihat, umpama mengintip orang mandi baik sejenis maupun lawan jenis. Menghindari maksiat telinga tentu tidak mendengarkan suara apapun yang tidak boleh didengar menurut syariat, umpama mendengarkan orang menggosip.
Menghindari maksiat lisan tentu tidak berkata yang syariat tidak membolehkannya, umpama berkata jorok, menggosip, mengumpat, dan berkata bohong.
Menghindari maksiat tangan, tentu tidak melakukan apa saja yang syariat tidak membolehkannya, umpama mencuri, menganiaya orang lain, dan jari jemari membuat atau menyebarkan informasi hoax melalui HP. Menghindari maksiat perut tentu tidak memakan barang haram, baik secara material umpama makan daging babi, maupun teknis, umpama makan nasi hasil mencuri. Menghindari maksiat kelamin tentu tidak melakukan zina. Menghindari maksiat kaki, tentu tidak melangkah ke pusat-pusat kemaksiatan, umpama pergi ke kios untuk memberi nomor togel, atau melangkah ke suatu tempat untuk bertransaksi narkoba.
Sebenarnya, persoalan yang muncul adalah masalah psikologis, mau menghindari sesuatu perbuatan atau tetap melakukan. Secara umum, perbuatan manusia non kalap atau membabi buta, tentu ada penghitungan untung rugi.
Sudah barang tentu yang dimaksud untung-rugi bukan sekedar uang, melainkan secara umum adalah sistem nilai bagi pelaku perbuatan.
Kalau aku melakukan, apa untung dan rugiku; untungku lebih besar atau lebih kecil dibanding kerugianku. Perhitungan ini juga berlaku kalau tidak melakukan sesuatu perbuatan.
Nilai membentang antara lain pada ranah ekonomi, sosial, politik, seni, dan agama. Dari masing-masing ranah nilai terstruktur ke dalam nilai primer, sukunder dan tertier (Ali Sjahbana, 1982:16).
Satu contoh pertimbangan dalam agama antara salat dan tidak salat. Jika melakukan salat, harapan selamat kelak di akhirat sangat terbuka, Jika tidak salat bisa melakukan yang menurut pertimbangannya bisa melakukan hal lain. Jika pertimbangannya menomorsatukan keselamatan di akhirat, artinya salat menjadi pertimbangan nilai primer baginya pasti akan melakukan salat.
Imam Ghazali, dalam (Mulim Kadir, 2003: 250) menjelaskan bagaimana lintasan kesadaran berubah menjadi perbuatan, yaitu melalui tahap-tahap kesadaran, bermula dari khawatir (lintasan kesadaran) akan berbuat sesuatu. Jika khawatir ini amat kuat maka akan berubah menjadi raghbah (cenderung akan berbuat).
Dari raghbah meningkat menjadi i’tiqad (yakin harus berbuat), akhirnya meningkat menjadi iradah (kemauan kuat) untuk berbuat. Laju kesadaran dipengaruhi oleh khawaatirul ‘aql, khawatirul ruh, dan khawatirul malak. Ketiga hal ini merupakan kesadaran terpuji untuk berbuat yang baik-baik.
Akan tetapi, jika ia tidak percaya pada kehidupan akhirat, khawatir yang mempengaruhi adalah khawatirun-nafs (dorongan hawa nafsu) dan khawatirusy syaithan (dorongan berbuat keji dan mungkar (Abdul Qadir al-Jailani, I: 101), maka salat hanya merupakan tindakan sia-sia karena tidak bernilai baginya.
Dengan membaca Alquran, membaguskan suaranya telah memelihara indra mata, telinga, mulut, unsur rasa, dan intuisi (persemayaman iman) menuju ke arah yang diridhai Allah. Jika ia sadar akan keutamaan membaca Alquran, lebih-lebih di bulan Ramadhan, menurut sabda Nabi, ia dijuluki shahibul Qur’an.
Di akhirat kelak, baik personifikasi Alquran maupun puasa akan mencarinya. Setelah ketemu, keduanya memohon izin kepada Allah untuk memberikan syafaat kepadanya. Allah pun mengizinkan. Akhirnya, keduanya bahu membahu memberikan syafaat kepadanya hingga memaksukkannya ke surga (hadis riwayat Hakim dari Ibnu Umar).
Bagi pelaku puasa yang mampu memelihara anggota tubuh dari berbuat maksiat, maka ia memiliki harapan besar akan ridha Allah. Puasa itu merupakan perisai dari jilatan api neraka, dan pahala puasa langsung diurus oleh Allah sendiri. Dan masih banyak keutamaan lainnya. (*)
• Di Balik Kisah Peserta Lolos Program Kartu Prakerja
• Beberapa Kecamatan di Kota Semarang Berpotensi Alami Hujan saat Malam, Begini Prakiraan Cuacanya
• UPDATE TERKINI: Rumah Sakit Kasih Ibu Solo Diserbu Sobat Ambyar Sebelum Dimakamkan di Ngawi
• Update Corona Jateng Selasa 5 Mei 2020, Ada Tambahan Baru Kasus Positif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ramadhan-2020.jpg)