Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Mengenang para Ksatria Muda

ARKIAN, pada hari keempatbelas Perang Agung Baratayuda, Raden Gatotkaca pun tiba pada pengujung usia. Kesatria andalan kubu Pandawa itu

tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

Wartawan Tribun Jateng

ARKIAN, pada hari keempatbelas Perang Agung Baratayuda, Raden Gatotkaca pun tiba pada pengujung usia. Kesatria andalan kubu Pandawa itu, tidak bisa lagi melanjutkan perjuangannya. Kegagahannya pudar di ujung panah Kunta. Senjata andalan Basukarna.

Mendung pun menggelayut di Kurusetra. Lebih-lebih di tengah pasukan Pandawa. Lebih-lebih di tengah keluarga Arimbi dan Werkudara.

Dengan penuh kemarahan, Wekudara mengamuk membabi buta. Gada Rujakpolo di tangan kanananya berputar-putar mencari mangsa. Sekuat tenaga. Entah sudah berapa prajurit Kurawa yang terpental dan menjemput ajal karenanya.

Padahal, belum kering air mata keluarga Pandawa. Sehari sebelumnya, pada hari ketigabelas, Raden Abimanyu yang meregang nyawa. Putra kesayangan Arjuna itu tewas dengan tatu arang kranjang di sekujur tubuhnya.

Dalam usia yang amat belia. Para dalang mengenangnya dalam lakon Abimanyu Ranjap, yang mengharu biru.
Begitulah, perang selalu meminta tumbal. Tidak peduli usia.

Dalam kisah yang lebih tua, Ramayana, juga tidak terhitung ksatria muda yang harus menutup mata di usia belia. Dua putra Kumbakarna, Kumbakumba dan Aswanikumba, juga tewas dalam usia belasan tahun.

"Perang memang kejam ya, Kang. Dan tidak pernah memilih korban," kata Dawir, sedulur batin saya, lirih.
Kisah-kisah para ksatria muda yang rontok sebelum waktunya itu melejing ke benak saya, ketika mengenang perjalanan reformasi, yang kini menapak usia 22 tahun. Tepat hari ini, ketika catatan ini Anda baca, empat pemuda menemui ajal. Di tengah kecamuk reformasi.

Pada 22 tahun lalu, 12 Mei 1998, peristiwa mencekam dan berdarah terjadi di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, saat mahasiswa melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto.

Empat mahasiswa tewas dalam penembakan terhadap peserta demonstrasi yang melakukan aksi damai, yaitu Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie. Empat mahasiswa yang kemudian dikenang sebagai pahlawan reformasi.

Saya teringat, pada 13 Mei 1998, sehari setelah kematian empat mahasiswa Trisakti, itu, saya bersama Sucipto Hadi Purnomo--kini doktor Sastra Jawa di Universitas Negeri Semarang (Unnes)--berkeliling kampung di Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang. Kami bertindak serupa tukang slompret, yang mengabarkan kematian warga kampung.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, sampun kapundhut wonten ngarsaning Gusti, empat pemuda pemberani: Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie..."

Hingga hari ini, 22 tahun kemudian, kasus itu tidak pernah terungkap tuntas. Perjuangan para keluarga korban, lewat Aksi Kamisan yang telah berlangsung selama 13 tahun, seperti menepuk udara kosong.

Persidangan terhadap enam terdakwa, beberapa tahun kemudian, juga tidak dapat mengungkap siapa penembak mahasiswa yang menggunakan peluru tajam dan motifnya. Enam terdakwa hanya dituduh dengan sengaja tidak menaati perintah atasan. Sejak era Presiden Habibie, Gus Dur, Megawati, dua periode SBY, hingga

Jokowi yang juga memasuki periode kedua, kasus itu belum juga menemu titik terang. Kasus itu masih berselimut kabut misteri. Entah sampai kapan.

"Kawit bakda macan nganti bakda kucing, kayane ya rak bakal kesingkap, Kang," celetuk Dawir lagi, skeptis. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved