Mutiara Ramadhan

Mutiara Ramadhan KH Mohammad Farid Fad: Fitri dan Mudik Spiritual

Setidaknya dalam hari-hari terakhir Ramadhan ditemukan waktu keutamaan guna memperbanyak laku ibadah.

TRIBUN JATENG
KH Mohammad Farid Fad,Pengasuh Ponpes Raudlatul Muta’allimin Kendal 

Mohammad Farid Fad
Pengasuh Ponpes Raudlatul Muta’allimin Kendal

TAK TERASA Ramadhan telah memasuki etape sepuluh terakhir. Fase pembebasan diri dari siksa api neraka. Setidaknya dalam hari-hari terakhir Ramadhan ditemukan waktu keutamaan guna memperbanyak laku ibadah.

Hal ini pula yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Disebutkan dalam riwayat Aisyah r.a. bahwa bila Nabi SAW memasuki sepuluh hari terakhir, beliau SAW menyingsingkan ikat pinggang, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.

Momen keistimewaan itu tak lain adalah lailatul qadar. Malam seribu purnama. Dimana siapapun yang beribadah pada malam itu akan diampuni segenap dosa masa lalunya dengan hanya berbekal iman dan mengharap ridho-Nya.

Para malaikat pun berkarnaval turun ke bumi hingga terasa sesak. Inilah titik kulminasi evolusi keruhanian manusia. Dalam hening seribu purnama ini kita dituntut untuk mengaktifkan kembali radar nurani. Guna menemukan kembali khittah orisinal kemanusiaan.

Tentu saja mensyiarkannya tak harus dilakukan di masjid. Sementara ini, ibadah cukup dilakukan di rumah masing-masing. Terbukti, tanpa glorifikasi kemeriahan, spiritualitas Ramadhan tak kehilangan daya hidup.

Wabah korona tak mampu mengubah esensi ibadah. Yang berbeda adalah cara kita beribadah. Inilah bukti elastisitas hukum Islam. Bukankah Allah SWT berpesan bahwa kemanapun kita menghadap di situlah wajah Allah (Q.S. 2: 115)?

Kita juga diharuskan menunaikan zakat fitrah sebagai wujud berbela rasa. Kita harus menyadari bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya hanyalah titipan Allah SWT.

Bahwa dalam harta yang kita miliki terdapat hak-hak fakir miskin dan lainnya. Zakat yang kita keluarkan berfungsi untuk membersihkan harta, menyucikan jiwa, dan dapat membantu meringankan beban orang yang membutuhkan.

Spirit zakat mengajak kita menghidupkan kultur karitas, kultur yang membuat manusia peka terhadap penderitaan sesama. Jangan sampai kita lupa bahwa ukuran kesalehan sesungguhnya tak hanya personal tetapi juga sosial.

Bahkan, menurut Imam Ghazali dalam Ihya’-nya, zakat merupakan wujud nyata pengejawantahan tauhid. Hingga orang yang mengaku bertauhid semestinya tidak mencintai apa pun dan siapa pun kecuali hanya Allah SWT.

Walaupun korona mampu meretas sisi kemanusiaan dengan menarik kita dari pergaulan sosial, namun saat momen fitri nanti, kita harus tetap bersilaturrahim maya dengan handai taulan. Justru inilah saatnya kita memperteguh energi welas asih guna saling menguatkan di tengah deraan pandemi.

Bila hal itu terwujud, pada hakikatnya kita telah mengalami mudik spiritual, yaitu perjalanan memasuki jagat kemanusiaan diri. Inilah wujud nyata realisasi sesungguhnya bahwa Bulan Ramadhan sejatinya adalah persenyawaan dinamis antara kesalehan ritual dan sosial.

Akibatnya, dakian tangga hidup akan semakin bermakna. Mereguk dalamnya samudra spiritualitas menuju hari yang fitri. Wallahu a’lam. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved