Breaking News:

Berita Regional

Setelah Beritakan Tagar Indonesia Terserah, Kini Media Luar Negeri Soroti Kerumunan di Pasar dan Mal

Sejumlah media asing kembali menyoroti kondisi fenomena wabah Covid-19 di Indonesia.

Editor: galih permadi
ISTIMEWA
Terekam dalam video suasana pengunjung membeludak di CBD Ciledug, Selasa (19/5/2020). Masyarakat menyemut hingga tak memedulikan protokol kesehatan Covid-19. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sejumlah media asing kembali menyoroti kondisi fenomena wabah Covid-19 di Indonesia.

Setelah sebelumnya memberitakan tagar 'Indonesia Terserah' yang viral, kali ini tentang masih adanya keramaian di tengah-tengah meningkatnya kasus infeksi virus corona di Indonesia.

Dikutip dari Kompas.com, Media asal Hong Kong, South China Morning Post memberi judul beritanya pada Senin (18/5/2020) tentang warga di Jawa Timur yang membuka peti jenazah pasien Covid dan akhirnya terinfeksi.

Ini Biodata Tante Ernie Judojono Pemersatu Bangsa, Masih Seksi Meski Beranak 3 dan Usia Kepala 5

Curhat Pelaku Bully Rizal Penjual Gorengan di Pangkep: Saya Sudah Tidak Kuat Lagi Tuhan

ABG Semarang Tewas Dikeroyok Gerombolan Pengangguran Asal Pedurungan: Kepalanya Dihujam Balok Kayu

Kisah Kakak Beradik Asal Kendal Mualaf Saat Ramadhan, Dapat Hidayah Masuk Islam dengan Cara Berbeda

Fenomena warga Selain itu di badan beritanya, SCMP menuliskan tentang banyaknya orang bepergian di bandara Soekarno-Hatta setelah adanya izin penerbangan terbatas beberapa waktu lalu.

Berita tentang pasien Covid-19 yang marah dan menolak perawatan di rumah sakit lalu memeluk tetangganya juga turut dilaporkan.

"Contoh-contoh seperti itu menyoroti perjuangan berat Indonesia negara berpenduduk 270 juta orang yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, saat mencoba meratakan kurva Covid-19," tulis SCMP.

Bahkan, saat kasus mencapai 18.010 dan korban meninggal 1.191, masih banyak orang-orang yang mengabaikan pembatasan pemerintah dan panduan tentang langkah-langkah jarak sosial.

Eksodus massal bisa picu kasus SCMP mengutip statemen ahli yang mengatakan eksodus massal penduduk dari Jakarta mulai terjadi sebelum pemerintah melarang perjalanan pada bulan April.

Meskipun saat itu sudah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Saya percaya bahwa PSBB bagus di atas kertas. Dalam praktiknya, saya tidak memiliki kepercayaan yang sama. Saya pribadi menyaksikan bagaimana orang-orang masih berkeliling tanpa mengenakan masker," kata Muhammad Habib Abiyan Dzakwan, seorang peneliti dari CSIS yang diwawancari SCMP.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved