Selasa, 9 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2020

Cerita Mahasiswa Indonesia Puasa di Australia, Cuma 12 Jam

Adanya pembagian waktu di seluruh dunia membuat perbedaan durasi atau lamanya orang menjalankan ibadah puasa ramadan.

Tayang:
Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: muh radlis
IST
Muhammad Subhan, mahasiswa Monash University Australia berfofo di depan patung Sir John Monas, Komandan Militer Australia Perang Dunia Pertama dan pendiri Monash University 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Adanya pembagian waktu di seluruh dunia membuat perbedaan durasi atau lamanya orang menjalankan ibadah puasa ramadan.

Di Indonesia, rata-rata orang menjalankan ibadah puasa selama 14 jam.

Hal itu berbeda dengan beberapa negara, misal di Inggris bisa sampai 16-17 jam.

2,5 Jam Mencari Rumah Bu Imas, Anggota DPR Ini Tak Kuasa Menahan Sedih saat Sampai, Ini Janjinya

109 Tenaga Medis yang Mogok Kerja Dipecat, Pihak RSUD Ogan Ilir: Ya, Keputusan di Tangan Pak Bupati

Tetap Memeluknya saat Meregang Nyawa, Terungkap untuk Siapa Seikat Bunga yang Dibawa Okta

Keringat Keluar Saat Tidur Malam? Bukan Karena Suhu Panas, Bisa Jadi Sebagai Tanda Sakit Ini

Keadaan tersebut berbeda dengan Australia dengan durasi waktu yang lebih singkat, yakni 12 jam.

Menurut Muhammad Subhan, mahasiswa master di Monash University Australia asal Indonesia itu, dia sekarang menjalani puasa bisa dibilang lebih mudah dibanding di Indonesia.

"Di Melbourne, Australia ibadah puasa ramadhan relatif lebih pendek daripada di Indonesia.

Per tanggal 18 Mei 2020, buka puasa tepat pukul 17.16 dan Imsak atau Subuh pukul 05.44 atau sekitar 12 jam.

Cuaca di sini pun tidak seterik di Indonesia," ucapnya kepada Tribun Jateng ketika dihubungi melalui sambungan telpon, Kamis (21/5/2020).

"Alhamdulillah lancar, karena durasi puasa di Australia cenderung lebih pendek daripada Indonesia.

Kegiatan sehari-hari tetap kuliah online sambil mengerjakan tugas," ungkapnya.

Selain itu, laki-laki asal Kabupaten Kudus itu menyampaikan ada beberapa kesulitan yang dia rasakan.

"Kesulitannya, ya mungkin kita sendiri yang harus mempersiapkan makanan untuk buka puasa dan sahur.

Belanja sendiri, masakpun sendiri.

Kalaupun beli makanan di restoran, harganya rata-rata relatif mahal," ungkapnya.

Dia menutyurkan, untuk menyiasati waktu dan pengeluaran dia biasanya hanya masak untuk buka puasa.

"Sedangkan untuk sahur, saya memilih menu oatmeal.

Oatmeal dicampur susu dan buah-buahan, kemudian dipanaskan dengan microwave, cukup 3 menit sudah tersaji," tuturnya.

Menurutnya, untuk saat ini di tengah pandemi covid-19, pemerintah negara bagian Victoria melarang adanya perkumpulan orang dalam skala besar.

"Oleh sebab itu, Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI, atau komunitas beasiswa seperti LPDP atau AAS tidak melaksanakan buka puasa bersama.

Namun, terkadang antar-orang Indonesia saling mengirimkan takjil buka puasa dengan cara diantar ke rumah teman sesama orang Indonesia," ucapnya.

Selama menjalani puasa di Negeri Kanguru, sebagai orang Indonesia, di kangen dengan beberapa penganan takjil yang dijual di pinggir jalan.

"Saat puasa seperti ini, tentu saja (kangen, red) aneka takjil dan goreng-gorengan yang bebas dijualbelikan di pinggir jalan.

Hal itu tidak bisa saya temui di Australia kecuali buat sendiri atau beli ke teman sesama Indonesia yang menjual menu ramadan secara online," ungkapnya.

Mengenai perbedaan secara spesifik masakan Indonesia dan Australia, dia menuturkan ada pada bumbu dan porsi.

"Di sini, makanan cenderung tidak terlalu banyak bumbu rempah seperti di Indonesia.

Sedangkan dari segi porsi, jauh lebih besar porsi makanan di Australia.

Satu porsi Fried Chicken misalnya, untuk ukuran orang Indonesia bisa untuk makan 2 kali," ungakapnya.

Dia melanjutkan, selain itu, aroma daging di sini cenderung lebih kuat.

"Di Australia sendiri tidak ada makanan khas secara spesifik, tetapi banyak makanan yang diadopsi dari berbagai negara, karena Australia dikenal sebagai negara multietnis.

Sebut saja dari Eropa, Turki, Thailand, Chinesefood, India, Indonesia, Amerika Serikat, dan lain-lain," tuturnya.

Selama puasa, dia menuturkan, masih melakukan pembelajaran secara daring.

"Masih ada, karena semester 1 akan selesai tepat akhir Juni 2020.

Kalender di Australia sendiri tidak ada agenda liburan Lebaran Idul Fitri.

Jadi, perayaan lebaran hanya untuk orang muslim.

Selebihnya tetap hari kerja seperti biasanya," tandasnya. (kan)

Sambut Hari Raya Idul Fitri, Pesonna Hotel Semarang Tawarkan Beragam Promo

Terkendala Penghapusan Aset, Pembangunan Pasar Pagi Kaliwungu Kendal Molor

Bentuk Kepedulian, Masyarakat Tionghoa Pekalongan Serahkan Bantuan ke RSUD Kajen

Beredar Poster Wonosobo Karantina Wilayah hingga Warga Dilarang Keluar Desa, Ini Kata Pemkab

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved